Kamis, 23 Februari 2012

Kucing di atap

Terbangun lagi, ada kucing di atas atap, berlarian tak peduli. Kemudian, berurutan, panas di mata, kau, kenangan.
Lalu, jadilah sebentuk insomnia.

Jumat, 10 Februari 2012

Perempuan kecil itu hari ini

Ada yang mengadakan lomba, ia mendengar dari tadi, bergantian, ceramah, mengaji dan tilawah. Merdu terbawa angin, menyelip dari sela pintu kamarnya yang sempit. Nada-nada yang begitu ia kenal, bertahun-tahun lalu.

Lalu, perempuan kecil itu masuk kembali ke kepalanya, dengan piyama dari bahan yang berbeda-beda warna, dijahitkan sendiri oleh ibunya. Belum lagi terhapus noda bantal di pipinya yang tembam, dengan sandal yang kebesaran (bahkan hingga nanti sandal itu putus karena telah jelek, sandal itu masih tetap kebesaran di kakinya) tersandung-sandung ujung sandalny sendiri, ia berjalan keluar rumah, masih terlalu pagi, kedua kakaknya baru saja berangkat ke sekolah, Ibunya di dapur, entah mencuci, entah memasak. Pagar kayu berwarna hijau muda di depan rumahnya dikunci dengan gembok besar dan lilitan rantai. Ia tak bisa keluar.

Pipinya yang bulat itu menempel di sela pagar kayu, dingin, warung di seberang rumahnya, belum lagi buka. Masih pagi, pohon rambutan kecil di halaman masih basah daunnya, ia berlari ke sana, merasai kulit kayu yang kasar, menarik dahan terendah yang bisa dia capai, lalu berlari lagi ke arah rumpunan tanaman sereh yang ditanam ibunya, menariknya selembar, dan mencium baunya. Kemarin, ia punya balon biru, balon terlama yang bertahan, yang pernah ia punya, yang tiba-tiba pecah ketika dibiarkannya di bawah panas matahari, ia sedih, tapi tidak menangis, hanya saja, itu pertama kali ia menyadari tentang kehilangan.

Di sebelah rumahnya ada setumpukan batu kerikil yang dibatasi dengan papan kayu, kerikil-kerikil yang direncanakan untuk merehab rumah itu telah ada sepanjang ingatannya, pagi ini, kerikil-kerikil itu begitu dingin dan basah, hitam, putih, hitam bening, kekuningan, bulat, memanjang, persegi, dan banyak bentuk yang tidak bisa ia sebutkan. Tumpukan kerikil itu pernah menjadi salah satu tempat bermain kesukaan ia dan kedua kakaknya, tapi entah sejak kapan pula, akhirnya tinggal ia sendiri bermain di sana.

Suara penceramah dari jauh itu tiba-tiba mengejutkannya, ah, di mana perempuan kecil itu?

Di tempat lain, ia melihat perempuan kecil itu pulang sekolah, merah putih seragamnya, menangis, tulang kering kaki kanannya berdarah, sampai di rumah, tak dapat diingatnya siapa yang bertanya kenapa kakinya berdarah, sesenggukan ia menjawab, seorang teman menjegalnya, ia terjatuh, kakinya tersangkut potongan kayu, ada paku. Berhari-hari kemudian ia demam. Lama ia membenci, temannya si penjegal kaki, di sekolah, diajaknya berkelahi, saling jambak, bergulat dalam debu, si penjegal kaki menangis, pipinya juga sakit kena tinju, tapi ia bertahan untuk tidak menangis, guru menghukum mereka berdua, pelan-pelan si penjegal kaki mengulurkan tangan padanya, maaf ya, ujarnya pelan, ia menjabat tangan temannya, iya sahutnya. Tak lama setelah itu, mereka berdua begitu akrab, jadi jagoan di sekolah, ditakuti, tukang berkelahi, dua perempuan kecil, suka menendang dan meninju, tak peduli perempuan atau laki, tak jarang pula, mereka berdua berselisih lagi, tapi saling memaafkan lagi. Dulu pernah dia ingat, si penjegal kaki mengajaknya ke rumah, ayahnya panen durian, dia diajak ikut menikmati. Lulus seragam merah putih, ia dan si penjegal kaki berpisah sekolah, nilainya tertinggi di sekolah, cukup untuk masuk ke sekolah terbaik di kotanya, seragam putih biru kini ia pakai, lama, ia dan si penjegal kaki, tak lagi berhubungan, sedikit kabar hanyalah tentang si penjegal kaki yang tetap jadi jagoan, perempuan yang suka berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sesekali bertemu, mereka hanya saling melempar senyum dan berlalu, ia sibuk dengan teman-teman barunya, dunia baru yang nanti memberi kisah sendiri yang mewarnai hatinya. Si penjegal kaki, terlupakan.

Lalu, di suatu maghrib, perempuan kecil itu sedang bersama ibunya, seseorang membawa kabar, si penjegal kaki kecelakaan, setelah menonton balap motor liar, ia ikut kebut-kebutan, di rumah sakit ia meninggal. Perempuan kecil dan ibunya, bergegas ke rumah si penjegal, di sana telah ramai, tangis ibu penjegal menyambutnya, ia belum menangis, hanya terduduk lemas, menyendiri ke ruang tengah, mayatnya belum sampai, masih di rumah sakit, ia menunggu, sambil mengingat, lalu pelan-pelan, air matanya jatuh juga. Sampai tubuh temannya datang, disambut takbir dan tahlil, ia menatap lekat, wajah pucat, tak ada sedikitpun luka, hanya darah, terus mengalir dari hidung dan telinga, walau telah disumbat kapas, tetap membanjir merah, begitu cepat kita tak lagi bisa sekadar saling melempar senyum, pikirnya.

Bertahun-tahun lalu, perempuan kecil itu terpotong lagi hatinya, bukan sekadar balon biru, yang pecah dan tidak menyisakan apa-apa, tapi seseorang, yang berkelahi, menangis, tertawa dan telah meninggalkan bekas luka di kakinya, hingga kini.

Suara mengaji lagi, perempuan kecil itu pamit pergi, sudah isya, dan telah dua puluh lima tahun ia kini.

--untuk pasangan berkelahi terbaik saya yang pernah ada, Almarhumah Mery Krisba.

Kamis, 09 Februari 2012

kunang-kunang dalam kotak kaca

kunang-kunang dalam kotak kaca, maukah kudekatkan pada lampu pijar di atas sana?
yang berkerlip, yang menjawab mimpi-mimpi
agar kau bisa tau rasanya, mati terpanggang panas harap
maukah? 
atau kau tetap di sana, terperangkap dalam kotak kaca, dan sinarmu redup, makin meredup, lalu mati
pilih mana, kunang-kunang dalam kotak kaca?
mati menyentuh mimpi
atau mati tanpa tau wujud mimpimu? 


i owe these picture from here

Kamis, 02 Februari 2012

karena ini cinta, aku ingin mengingatnya

Harus kutuliskan, untuk mengingatmu, untukmu.
Mungkin kau tak pernah tahu, hari ini, ketika kau kirim pesan dalam hujan yang jatuh, aku ikut luruh. Satu kesadaran menghempasku, cinta itu sederhana, cinta, seperti bukan apa-apa, tapi dialah harga, yang memaknai makna, cinta itu kamu.


Maaf, aku menyadarinya hari ini, aku tahu, tak akan ada puisi-puisi, tak akan ada lagu-lagu, mungkin untukmu, cinta bukan kata, yang keluar, lalu, lalu. Cintamu, kegugupan mengucap, ragu-ragu menatap, dan setia dalam menunggu.


Kaulah itu, tempat aku berpegang ketika suluh mati dalam gelap, 
dalam ragu, dalam bingung. Kaulah itu, yang diam-diam mengusap airmataku, dan menjauh pula pelan-pelan ketika aku kembali bisa tertawa. Selama ini, kemanakah aku? tak merasaimu, tak menangkap gugup dalam lakumu. Kemanakah aku? Sibuk terjerat dalam ruang senyap, tidak, tak lagi, dan mulai hari ini, tiap detikmu, tiap detikku, aku akan merasai, memegangmu erat. Tak lagi alpa, tak ingin lupa, karena ini cinta, dan aku ingin mengingatnya.




gambarnya dari: sini



Kamis, 05 Januari 2012

kau hanya tidak mengerti

ketika kau menjelma pondok dengan cahaya hangat, 
aku sedang berdiri di bawah hujan dengan dingin paling sekarat


this picture is from: here

Senin, 26 Desember 2011

A little Bit Of Heaven, bahagia itu di mana-mana


Kau, yang kisahmu tamat hari ini, berhasil membuat cuaca terik panas di luar sana berganti menjadi awan gelap berpetir yang dengan tidak sopan masuk ke kamarku dan menginap, tapi tunggu dulu, dia tak berhasil masuk ke hati ku, karena apa kau tau? Walaupun awan itu berhasil membuatku menolak ajakan untuk bersenang-senang bersama teman-temanku (ah, mereka saat ini pasti sedang menikmati kuliner di daerah Pvj, mengobrol dan tertawa), aku tak menyia-nyiakan diriku untuk berlarut-larut merutuki mu.
Sendiri, aku berjalan menjauhi kamar ber-awan gelap-mu, menikmati pecel ayam dan nasi uduk, lalu kemudian kakiku mengajak untuk menghampiri tempat aku biasa menyewa film-film bermutu di kota ini, BatuApi, itu nama tempatnya, kau tahu kan? Seperti biasa, penjaga di sana menyapaku-yang telah hitungan tahun dikenalnya, mengajukan beberapa film, yang dia tahu akan kusukai, film-film tidak populer, tetapi bermutu dan jarang sekali bisa kau dapatkan di tempat penjualan dvd bajakan. Ada tiga film yang kupinjam malam ini, dan dua diantaranya, kau tahu, dihari-hari biasa tak mungkin aku tertarik untuk menontonnya, tapi, malam ini berbeda, aku mencari hiburan, mengusir awan gelap-mu.
Salah satu film itu berjudul A little bit of Heaven, tentu saja bukan salahsatu rekomendasi dari lelaki di BatuApi tersebut, film ini diajukannya karena aku yang meminta--yah--genre--drama--yang--menyenangkan
Ternyata, pilihanku tak salah (satu-satunya kesalahanku saat memilih adalah ketika pernah memilihmu, haha) Kate Hudson, yang menjadi pemeran utama bernama Marley, berperan sangat baik di sana, ceritanya tentang perempuan (Marley) yang divonis menderita kanker, berhasil menghadapi kematiannya dengan bahagia, bukan dengan ketakutan. Awalnya, ia takut, ia menolak perhatian dari semua orang, termasuk dari laki-laki yang mencintainya, jadi, ada momen yang membuatnya mengubah pikiran, ia pingsan, berada di awan dan seperti bertemu malaikat (atau entah apalah, tuhan mungkin?) yang mengatakan padanya bahwa ia telah memiliki semua apa yang ia inginkan dalam hidup, yang diperlukan hanyalah cara pandang yang berbeda, melihat hidup dari sisi yang berbeda. Ia mengerti, dan ketika terbangun, ia mulai melakukan segala hal yang ingin ia lakukan dalam hidup, jatuh cinta, bersahabat, membahagiakan orangtua, dan bersenang-senang, disamping akting Gael Garcia (pacar Marley) yang sedikit kaku, menurutku film ini menyenangkan, dan lihat, bagaimana film ini berhasil mengusir awan gelap-mu.
Film sederhana ini juga berhasil mengingatkanku, bahwa hidup itu hanya sekali, ada bahagia di mana-mana. Jadi, jangan disia-siakan (kau mengertikan maksudku? ) :)


Minggu, 25 Desember 2011

a little house a little dream

gambar dari: sini

"ntar kita rancang sendiri ya rumah impian kita, gak perlu besar tapi nyaman buat kita sekeluarga, di halaman belakang ada kolam dan tamannya, kita bisa beduaan di gazebo di taman itu"

Received:
23:06:38
25.12.2011
From:
Mon Cher
+xxxxxxxxxx853

Tidak terlalu berlebihan kan, Tuhan?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...