Showing posts with label apalah. Show all posts
Showing posts with label apalah. Show all posts

Thursday, 6 March 2014

bebas


kita bebas
di jalan kita masing-masing
tak lagi saling halang
tak lagi saling halau
akhirnya,
kita bebas.

aku
bebas.
Pict source: here

Sunday, 5 May 2013

pesan dalam kotak draft

beginilah isi pesan yang tak jadi kukirim malam ini;

aku ingin membakarmu,
aku ingin menghanguskan kenangan, dan membuang abunya ke dasar laut
aku membencimu,
membenci kedua matamu yang picik
membenci bualanmu yang murah
membenci kepandiranmu yang sesat
membenci betapa bodohnya kau menyimpan kebohongan hingga aku mengetahuinya!

tapi, hari hampir pagi, jadi tak kukirim pesan itu. dan, aku tahu, pagi hari nanti aku akan bersyukur karena tak pernah mengirimkannya. 



Wednesday, 20 March 2013

1915 hari mimpi dan satu hari berhujan

Suatu hari, sebuah pohon yang telah hidup dalam kekeringan selama 730 hari berdoa pada dewa-dewa, segala dewa. "Wahai, segala yang mampu mendengar pinta hamba," katanya, "telah 730 hari berlalu hamba habiskan dalam kering yang panjang. Tak satu, bahkan daun kering pun tersisa. Tiap ranting sekarat mencari nyawanya sendiri. Bolehkah hari ini, sebentar saja, turunkan hujan. Sebentar saja. Lalu, bila aku harus mati, maka matilah dalam kenangan baik pelukan hujan."
Angin tiba-tiba berhenti bertiup. Ranting-rantingnya yang seolah jari-jari kurus tengadah ke langit, merasakan  di udara sekitar hawa lembab yang ia kenal baik, yang telah lama tak ia rasakan itu. Udara yang membawa aroma hujan. Gemetar tubuhnya, dewa-dewa mendengar, dewa-dewa menjawab. Maka, ditambahkannya lagi doanya, "Berikan, berikan hujan. Izinkan kutumbuhkan sehelai tunas, izinkan tunas mudaku membelai hujan."
Hujan pun turun, pelan awalnya. Membasahi puncaknya yang tertinggi, cokelatnya yang kering. Dirasainya hujan itu, seperti seorang penyembah, tengadah, ranting-rantingnya yang kurus menerima dengan ikhlas tiap tetes yang semakin deras.
Terus, teruslah. Gerus, geruslah. Setiap sakit, setiap duka, musnahlah.
Hujan semakin deras, Menjamah tiap inchi kekeringan di kulitnya, membasahinya, mengisinya.
Setelah ia berhasil mengusir segala kering yang tersisa, suatu gerakan lain mendorongnya dari dalam. Ada yang tumbuh di sana, di dalam tubuhnya, yang ia kenal baik dengan penuh cinta. Dorong. Dorong. Dorong.
Sebuah tunas muda, hijau bening, muncul di rantingnya yang kecil.
Terima kasih, yang telah mendengar doa hamba, apa pun. Terima kasih, wahai pengabul. Ujarnya dalam bahagia.
Tak lama, hujan berhenti. Pelan, perlahan.
Angin lama bergerak kembali, dingin, lalu kering.
Bayinya, tunas muda yang rapuh, bernafas pelan, menghirup udara yang semakin tak ramah.
1915 hari usianya, 730 hari kekeringan, dan satu hari berhujan. Ia tahu, tunas muda ini, tunas terakhir yang akan ia miliki.
Keesokan hari, matahari lama menyambutnya. Mengisap basah yang masih tersisa. 
Ia tak hendak lagi berdoa.
Tunas mudanya, dalam embusan udara yang tak seberapa kuat, gugur ke tanah.

Friday, 1 March 2013

tak bergerak

Pernahkah kamu mencintai seseorang dan seseorang itu pun mencintaimu? Kalian sama-sama mengutarakannya, sama-sama menunjukkannya, lewat kata dan lewat sikap. Menjadikannya orang yang pertama kau sapa ketika baru bangun tidur, dan rutin mengucapkan selamat malam ketika bersiap kembali tidur? Saat semuanya antara kau dan dia terasa benar. Tapi, hanya ada satu persoalan, baik kau ataupun dia, sama-sama tak melangkah maju, sama-sama tak memperlihatkan keinginan untuk memiliki yang lebih dari sekadar kata, dari sekadar sikap. Baik kau dan dia, seperti sama-sama menyimpan ketakutan untuk mendapat lebih dari yang sudah ada sekarang.

Kalian saling mencintai, kalian saling membutuhkan, tapi kalian tidak pernah benar-benar saling memiliki. Ada garis batas yang kau dan dia tau tidak untuk dilewati. Kau dan dia pun tak berniat untuk melewatinya, walaupun kadang-kadang kalian saling bertanya, bagaimana rasanya berada di sana? Menjadi bagian dari dirinya dan menjadikannya bagian dari dirimu. 

Mungkin ada banyak penyebab mengapa kalian begitu takut untuk melangkah. Mungkin kalian memiliki begitu banyak perbedaan yang bertentangan, hingga sedikit persamaan ini terus kalian pertahankan, tanpa hendak membuatnya lebih ataupun kurang. Jauh, jauh di dalam hatimu kau tau, suatu hari ini akan berakhir. Cepat atau lambat. Entah kau atau dia, pasti ada yang akan mengakhiri ini.

Aku tau rasanya seperti apa. Seperti terkurung dalam kotak tanpa pintu ataupun jendela untuk melihat ke luar, dan dirimu sendirilah yang menjebakkan diri di sana. Kadang kau merasa nyaman dalam kotak itu, kadang kau merasa bosan. Kau tetap bertahan karena sampai pada pemikiran suatu hari hal ini akan berakhir juga, dan bila waktunya tiba, kau akan membiarkan dia yang mengakhiri. Jadi, sebisanya kau bertahan, dan tetap berusaha menjadikan kotak tempatmu terkurung menjadi tempat paling nyaman.

Kau dan dia. Aku dan dia. Tak bergerak. Entah sampai kapan.


picture from here

Sunday, 24 February 2013

tidak lagi

Katanya, cinta seperti pasir. Semakin erat kau coba menggenggam, semakin banyak ia jatuh dan terbuang. Jadi, untuk apa berusaha?

Tuesday, 1 January 2013

perempuan yang menyulam harapan

picture from here
di sebuah tikungan, ada seorang perempuan yang membagi-bagikan sulaman harapan
gratis, untuk tiap pejalan yang kelelahan. aku menyebutnya;  perempuan yang menyulam harapan
"ambil saja," katanya, "dua atau tiga sekaligus untuk persediaan"
dan merekapun berebut, takut kehabisan
dan apabila pejalan kemalaman di perjalanan, mereka keluarkan sulaman harapan
ada yang menjadikannya selimut, ada pula yang hanya memandanginya
masing-masing punya cara sendiri menjadikannya alasan untuk bertahan di perjalanan
untuk pejalan yang tak bertemu dengan perempuan yang menyulam harapan
sendiri, ia akan merasa sepi dan kedinginan
apakah kau pejalan?
jangan lupa, bila bertemu perempuan yang menyulam harapan
dan ia sedang membagikan
ambil saja, jangan ragu, dua atau tiga
seperti aku, yang bahkan mengambil banyak sekaligus
dan hingga sekarang
aku tak pernah kehabisan harapan

Monday, 24 December 2012

mengingatmu


Tiba-tiba kau berbalik, melihat ke arahku, matamu langsung menatapku, terkejut, kemudian tersenyum. Satu menit lagi mungkin kau akan berada dekat di hadapanku, tapi langkahmu terhenti, karena gerakan tanganku, dan gelengan kepalaku yang menghentikanmu, no, aku menggerakkan bibir tanpa benar-benar mengucapkan kata itu. Kau mengerti, mengangguk dan tersenyum. Lalu, aku melangkah menjauhimu, menjauhi kau dan seorang bayi lucu dalam gendongan di hadapanmu. Kau sekarang seorang Ayah.

Cukup lama, aku memerhatikanmu. Saat pertama melihatmu, aku ragu apakah itu kau, atau aku hanya melihat seseorang yang mirip denganmu, ditambah lagi, bayi itu. Tapi itu memang kau, aku tak melihat perempuan itu di sekitarmu, kau sedang melihat-lihat dari luar arloji-arloji yang dipajang di etalase kaca, mungkin perempuan itu, istrimu, sedang berbelanja di bagian lain mall ini. Kau tidak melihatku, dan aku menjaga jarak, cukup jauh agar tak terlihat olehmu, cukup dekat untuk bisa memastikan itu benar-benar dirimu.

Lelakiku, enam atau tujuh tahun lalu, kau pernah mengatakan bahwa Tuhan mengirimku untuk melengkapimu. Lalu, pagi, siang, malam, kita selalu mencari-cari alasan untuk bersama, bertemu lagi, bertemu, dan bertemu, lalu kau dan aku seperti tak terpisahkan, kan? Suatu hari aku pernah berkata padamu, menunjuk tepat ke dadamu, aku mengutukmu, untuk selalu mencintaiku, ucapku, dan kau tertawa, kau bilang dengan sepenuh hati menerima kutukanku, seumur hidupmu. Pernah pula aku bertanya padamu, bagaimana bila Tuhan tidak menakdirkan kita untuk bersama, dan kau diciptakan untuk dilengkapi oleh rusuk yang lain, kau bilang, kau akan selalu ada untukku, dan di hatimu terlanjur telah dipenuhi oleh aku.

Untuk beberapa waktu kukira kita benar-benar terkena kutukan itu, hingga akhirnya kau bersama perempuan itu, memilihnya menjadi teman hidupmu, dan aku, melengkapimu. Selalu, menjadi pelengkapmu, sekadar pelengkap kapanpun kau membutuhkanku, berapa lama saat-saat itu berjalan? Sejak aku menerima saat dengan sadar kau mengatakan tentang pernikahanmu, kita saat itu berada dalam jarak, aku tak bersedih, aku ikut bahagia, dan aku tak lagi mencintaimu atau entah apanyang kurasakan saat itu, yang pasti bukan cinta.

Beberapa waktu setelah itu, kau mendatangiku, mengulang-ulang tentang kutukan, kau mencintaiku, katamu, seumur hidupmu, dan itu semua salahku. Bertemu lagi denganmu, saat kau seharusnya menyetia, apakah kau benar-benar merasa aku pelengkapmu? Selalu ada kapanpun kau membutuhkanku, dan kau simpan lagi saat tak ingin kau gunakan? Kau sepertinya lupa, akulah yang mengutukmu, kau mencintaiku, saat aku tak lagi mencintaimu, dan kau telah bersamanya. Kau selalu mencariku, mengabaikan perempuanmu.

 Lalu, perlahan aku meninggalkanmu, mencari alasan untuk menghindari pertemuan-pertemuan yang kau inginkan, mengabaikan telefonmu, sapaanmu, seluruh surat-surat mu di kotak masuk emailku. Dalam beberapa waktu, aku hilang darimu, sudah saatnya, aku katakan padamu, untuk menjalankan hidup kita masing-masing, aku bukan pelengkapmu, dan bahkan dalam kutukan, kau pasti mampu melupakanku, aku janji, kataku. Kau diam saja, tanpa bantahan, pun tak mengiyakan. kita menjauh, sebulan, setahun, hingga hampir dua tahun, tanpa temu, tanpa kabar.

Kau bahagia, aku melihat itu hari ini, dengan bayi itu. Dulu, aku pernah berkata padamu, lelaki yang menggendong bayinya saat bepergian dengan istri, selalu terlihat manis, dan kau melakukannya saat ini. Jujur, melihatmu yang bercakap-cakap dengan bayimu tadi, aku seolah ingin menangis, kau tahu? Kau manis, sangat manis, dan hari ini aku mengingat kembali betapa dulu aku pernah mencintaimu, dan menemukan kembali alasan mengapa dulu aku memilihmu.

Aku belum siap untuk terikat, kataku padamu saat kau memintaku menjadi teman hidupmu, tak apa bila kau ingin mendahuluiku, pilihlah pendamping yang kau percayai, karena aku belum siap saat itu, bahkan hingga hari ini, aku belum menemukan kesiapan, aku masih mengingat wajah kecewamu, aku masih mengingat betapa keras kau menahan dua air yang mengalir dari matamu saat memberitahuku keputusanmu menikah hari itu, aku paham, dan aku merelakanmu. Hari pernikahanmu, aku tak memiliki rasa apapun, tidak sedih, tidak patah hati, hari itu, aku kehilangan alasan mengapa dulu pernah jatuh cinta padamu, dan hari ini, dengan bayi dalam gendonganmu, aku menemukannya kembali.


Aku mencintaimu, dan kau telah lama bebas dari kutukanku, kau bahagia, dan aku bahagia melihatmu bahagia. Masih adakah tempat di hatimu untukku? Jika iya, ubahlah tempat itu menjadi semacam tempat untuk mengenang, tentang aku yang dulu mengutukmu, dan kau yang dengan rela menyerahkan hatimu. Untuk kau ingat, tak perlu setiap saat, sesekali saja, mungkin saat kau sendiri, hujan di luar jendelamu, dan salah satu pejalan yang menunduk mengingatkanmu padaku, saat itu, bolehlah kau mengingatku, mengingat kita, mengingat betapa dulu kita pernah bahagia.


picture from here











Wednesday, 12 December 2012

sabtu minggu di JakCloth dan IRF 2012

Ah, saya telat posting, nih. Coba kalo postingnya kemarin, kan tanggalnya jadi cantik 12-12-12, telat seharideh,  huhu. Tapi gapapalah ya, dari pada ga diposting, hehe....
Ini sedikit cerita hari sabtu dan minggu saya kemarin, yang berkat dua hari tersebut, kaki saya sukses pegel-pegel. Jadi, ceritanya sabtu dan minggu itu saya pergi ke  Jakarta Clothing Expo dan Festival Pembaca Indonesia Goodreads 2012, ahiiiy!
Jakarta Clothing Expo atau yang lebih dikenal dengan JakCloth  ini diadain di parkir timur senayan dari tanggal 5 sampai tanggal 8 Desember, selain ada berbagai stand clothing tentunya, di sini juga ada beberapa stage yang menampilkan band-band indie, baik dari luar negeri seperti Secondhand Serenade, juga yang dari dalam negeri seperti Endah & Rhesa, untuk hari sabtu kemarin harga tiketnya 20 ribu, band yang perform lumayan buanyaaak, dan yang dateng juga ga kalah buanyaaak :D. Nah, JakCloth ini, nih penyumbang terbesar kaki pegel saya, karena booth clothingnya banyak banget, saya muterin hampir ke semuanya, berkat kuliah di Bandung, kotanya FO dan Clothing, saya jadi lumayan tahu harga-harga pasaran produk clothing berdasarkan kualitasnya, jadi ga akan ketipu harga, nih. Hasilnya lumayan dapet t-shirt oke, dan tas cakep dengan harga yang miring banget dari harga aslinya ehehehe :D

 
tuh, rame kaaan :D
Hari minggunya, saya ditawarin si kakak buat ikutan ke acara yang diadain Goodreads Indonesia, yaitu Festival Pembaca Indonesia atau Indonesians Readers Festival (IRF 2012). Wah, tentu saja saya ga nolak :D karena sebelum pergi saja acaranya udah kebayang, pasti banyak buku, ihihihihi aseeeek :D ternyata oh ternyata malah lebih seru dari yang saya perkirakan, di sana ada forum workshopnya juga yang mengundang penulis-penulis terkenal di Indonesia, dan yang mau ikutan gratis-tis, bo! tinggal ikutan dan duduk manis aja :) Pas banget waktu saya nyampe di IRF yang diadain di Plaza Festival ini, yang lagi jadi pembicara adalah Ibu Leila S. Cudhori dan Mas Nenang
Ibu Leila S. Chudori dan Mas Nenang
Di IRF ini banyak stand yang menarik loh, salah satunya seperti Kelontong Sihir, yaitu tempatnya komunitas cerita fantasy, dan stand komunitas pecinta cerita Balada si Roy,
pojok anak di IRF 2012
Eh, saya juga sempat foto-foto sama penulis, nih..., hehehe
with Winna Efendi
karena excited banget, pegel-pegelnya jadi ga terlalu berasa deh :)





Thursday, 23 February 2012

Kucing di atap

Terbangun lagi, ada kucing di atas atap, berlarian tak peduli. Kemudian, berurutan, panas di mata, kau, kenangan.
Lalu, jadilah sebentuk insomnia.

Thursday, 5 January 2012

kau hanya tidak mengerti

ketika kau menjelma pondok dengan cahaya hangat, 
aku sedang berdiri di bawah hujan dengan dingin paling sekarat


this picture is from: here

Saturday, 24 December 2011

don't teach me :)

Kau ingin mengajariku tentang memiliki? Yakin? Kau bahkan tak memiliki apapun, untuk sekadar sedikit kau banggakan. Coba lihat lagi, duniamu yang palsu, yang terus kau atur untuk berpura-pura bahwa kau punya bahagia di mana-mana, kau bahkan tak tahu di mana lelakimu :) Ya, dia di Jogja, setaumu, tapi hatinya? Kau tahu di mana? Haha, ya sudahlah, aku akhirnya bisa mewajarkan bila akhirnya kau miskin perhatian :) Hanya saja, jangan pernah, bahkan dalam mimpi pun, kau kira kau mampu mengajarkanku, jangan, karena aku terlalu jauh melampaui batasmu :)

Belajarlah dulu sedikit tentang hidup, tentang jujur, tentang tulus, lalu tamatkan membaca tipudaya, bila kau ingin memiliki setengah dari apa yang aku tahu, itupun, hanya setengah, mungkin :)

Aku memberimu sisa, mengasihanimu, karena ternyata kau belum sanggup menjadi apa-apa, terlalu jauh untuk mengimbangiku. Paham? Jaga saja apa yang kau kira kau miliki, dan aku dengan apa yang aku miliki, jangan mengajariku, jangan pernah, bila kau tak ingin apa yang kau kira kau miliki itu hancur nantinya :)

i owe these picture from: here





Friday, 18 November 2011

Taya berlari

Taya berlari, ini bukan yang pertama ia berlari, tidak, ia tak mengejar waktu, percuma, toh, takkan pernah ia mampu. Waktu, yang memberinya bahagia, yang kemudian merampasnya pula, menyembunyikannya di belakang, di tempat Taya tak mungkin kembali. Percuma mendebat, toh, waktu tak akan berhenti, yang bisa ia lakukan hanya memandang ke belakang, ke tempat semua bahagia itu disembunyikan, tetap berjalan hingga apa yang ia lihat semakin kabur, menjauh dan hilang, bahagianya, hilang.

Sudah lama ia tahu, lari takkan membawanya ke manapun, selain memberi sedikit lelah hingga teralih dari ingatan tentang bahagianya yang hilang, hanya teralih, tapi tak pernah mampu membuatnya lupa. Taya tak pernah membenci waktu, ia sangat mengerti, membenci hanya membuat lubang di hatinya semakin menganga, dan ia tak mau itu terjadi, sebisanya, lubang itu ia tutupi, dengan sedikit kata maaf. 

Ia dan waktu, suatu hari mungkin akan saling mengerti.

Wednesday, 2 November 2011

cinta II

gambar dari sini

Kita tuliskan saja dulu, tanpa judul, tak apa, selesaikan paragraf pertama, lanjutkan lagi bila cerita telah bertambah, ya, siapa tahu bertambah, kan? Walau tokohnya hanya kita, kau-aku, siapa tahu, akan jadi beberapa paragraf, bab, atau bahkan sebuah buku nantinya. Tuliskan saja dulu, niatkan, boleh setelahnya, baru kita beri judul, dan untuk akhir, kita berserah saja pada'Nya, bagaimana? :)

Cinta

gambar dari sini
tarian ini tanpa irama
bergoyang, bergoyang
karena hati seolah dilatih sejak cahaya pertama purnama memberkati bumi
musiknya di kepala
ringan mengalun
keras menghentak
sedih mendayu
sesukanya
ikuti saja

LinkWithin