berjalan di belakangmu,
memberiku banyak waktu untuk memilih-milih mana kenangan yang patut diingat
dan mana yang sebaiknya dilupakan.
sungguh,
tak ada pertemuan yang abadi.
hanya kita, yang mencoba untuk membuatnya bertahan sedikit lebih lama.
cepat atau lambat
kau atau aku
siapapun yang memulai
akhirnya berakhir dengan selamat tinggal.
berjalan di belakangmu,
memberiku banyak waktu menghitung hari yang terlewat, pun hari yang tersisa.
begitu singkat waktu bersama,
begitu cepat untuk berpisah.
ada banyak hal yang ingin kukatakan, namun tersendat dan tak sempat terucap.
atau, bahkan takut untuk diucapkan.
berjalan di belakangmu, membuatku mengerti, betapa kita
kau-aku, dan tempat-tempat yang telah dan belum pernah kusinggahi,
tak ada yang abadi.
cerita tentang tempat dan orang-orang yang saya temui di perjalanan. sini, mungkin kamu salah satunya :)
Showing posts with label sepotongcinta. Show all posts
Showing posts with label sepotongcinta. Show all posts
Thursday, 7 January 2016
Wednesday, 14 August 2013
Lelaki
![]() |
| pict source: here |
Lelaki, ia tak pernah
berpanjang-panjang beralasan.
Ia bilang tidak, diam. Titik. Ia bilang iya. Titik.
Ia diam, aku mengenalnya, ia marah. Ia tersenyum, aku mencintaimu, katanya, dan
ia memang sungguh jatuh cinta.
Lelaki itu, tak mengirimkan pesan
berkali-kali memenuhi kotak masuk di telepon genggam, ia mengirim foto, satu
kali, sebuah jendela dari kamarnya, berlatar langit dengan semburat sinar
matahari yang meninggi, “selamat pagi”, begitu tulisnya.
Lelaki itu, tak pernah
berbasa-basi. Ketika perempuannya tertawa, ia hanya tersenyum, menatap dalam ke
tawa itu, “aku mencintaimu,” katanya. Dan, Ia, sungguh jatuh cinta.
Friday, 1 March 2013
tak bergerak
Pernahkah kamu mencintai seseorang dan seseorang itu pun mencintaimu? Kalian sama-sama mengutarakannya, sama-sama menunjukkannya, lewat kata dan lewat sikap. Menjadikannya orang yang pertama kau sapa ketika baru bangun tidur, dan rutin mengucapkan selamat malam ketika bersiap kembali tidur? Saat semuanya antara kau dan dia terasa benar. Tapi, hanya ada satu persoalan, baik kau ataupun dia, sama-sama tak melangkah maju, sama-sama tak memperlihatkan keinginan untuk memiliki yang lebih dari sekadar kata, dari sekadar sikap. Baik kau dan dia, seperti sama-sama menyimpan ketakutan untuk mendapat lebih dari yang sudah ada sekarang.
Kalian saling mencintai, kalian saling membutuhkan, tapi kalian tidak pernah benar-benar saling memiliki. Ada garis batas yang kau dan dia tau tidak untuk dilewati. Kau dan dia pun tak berniat untuk melewatinya, walaupun kadang-kadang kalian saling bertanya, bagaimana rasanya berada di sana? Menjadi bagian dari dirinya dan menjadikannya bagian dari dirimu.
Mungkin ada banyak penyebab mengapa kalian begitu takut untuk melangkah. Mungkin kalian memiliki begitu banyak perbedaan yang bertentangan, hingga sedikit persamaan ini terus kalian pertahankan, tanpa hendak membuatnya lebih ataupun kurang. Jauh, jauh di dalam hatimu kau tau, suatu hari ini akan berakhir. Cepat atau lambat. Entah kau atau dia, pasti ada yang akan mengakhiri ini.
Aku tau rasanya seperti apa. Seperti terkurung dalam kotak tanpa pintu ataupun jendela untuk melihat ke luar, dan dirimu sendirilah yang menjebakkan diri di sana. Kadang kau merasa nyaman dalam kotak itu, kadang kau merasa bosan. Kau tetap bertahan karena sampai pada pemikiran suatu hari hal ini akan berakhir juga, dan bila waktunya tiba, kau akan membiarkan dia yang mengakhiri. Jadi, sebisanya kau bertahan, dan tetap berusaha menjadikan kotak tempatmu terkurung menjadi tempat paling nyaman.
Kau dan dia. Aku dan dia. Tak bergerak. Entah sampai kapan.
Kalian saling mencintai, kalian saling membutuhkan, tapi kalian tidak pernah benar-benar saling memiliki. Ada garis batas yang kau dan dia tau tidak untuk dilewati. Kau dan dia pun tak berniat untuk melewatinya, walaupun kadang-kadang kalian saling bertanya, bagaimana rasanya berada di sana? Menjadi bagian dari dirinya dan menjadikannya bagian dari dirimu.
Mungkin ada banyak penyebab mengapa kalian begitu takut untuk melangkah. Mungkin kalian memiliki begitu banyak perbedaan yang bertentangan, hingga sedikit persamaan ini terus kalian pertahankan, tanpa hendak membuatnya lebih ataupun kurang. Jauh, jauh di dalam hatimu kau tau, suatu hari ini akan berakhir. Cepat atau lambat. Entah kau atau dia, pasti ada yang akan mengakhiri ini.
Aku tau rasanya seperti apa. Seperti terkurung dalam kotak tanpa pintu ataupun jendela untuk melihat ke luar, dan dirimu sendirilah yang menjebakkan diri di sana. Kadang kau merasa nyaman dalam kotak itu, kadang kau merasa bosan. Kau tetap bertahan karena sampai pada pemikiran suatu hari hal ini akan berakhir juga, dan bila waktunya tiba, kau akan membiarkan dia yang mengakhiri. Jadi, sebisanya kau bertahan, dan tetap berusaha menjadikan kotak tempatmu terkurung menjadi tempat paling nyaman.
Kau dan dia. Aku dan dia. Tak bergerak. Entah sampai kapan.
![]() |
| picture from here |
Saturday, 16 February 2013
selamat malam, patah hati
Dear patah hati, sepertinya aku merindukanmu malam ini, karena kata orang-orang, kau salah satu inspirasi besar ketika butuh bahan untuk menulis, bukan kata orang-orang saja sih, coba saja kau lihat sendiri isi blogku, sebagian besar memang membicarakanmu, heuh.... Sebenarnya sudah lama kita tak bertanya kabar, Akhir-akhir ini kisah-kisah tentangmu kudapat dari film, dari lagu dan dari buku-buku yang kubaca, tentu saja, kau tidak menceritakan tentang aku, tapi tentang pemeran-pemeran yang ada di film, lagu dan buku-buku itu, dan aku, aku menceritakannya lagi melalui caraku sendiri di tempat ini.
Kau tahu, aku suka nada-nada sendu dan sedikit pilu yang kau bawa ketika aku menceritakan tentangmu, kadang, nada-nada itu terasa nyata, hingga aku sendiri berpikir apa memang aku sendiri yang mengalaminya? Tentu saja seringkali mereka yang membacamu di sini mengira akulah tokoh dalam cerita tersebut, akulah yang sedang 'mengalami'mu, aku sih senang-senang saja, itu berarti kau tampil nyata di sana, kesedihan yang kau bawa bisa kusampaikan dengan baik hingga mereka mengira begitu. Sedikit mengingat-ingat, kapan terakhir kita bertemu? Kita bicarakan yang terhebat saja, meskipun banyak luka sebenarnya, namun aku bisa mengatasinya tanpa harus mengalami patah. Jadi salah satu yang terhebat itu sekitar dua atau tiga tahun yang lalu? Iya mungkin sekitar itulah, kau tahu, aku tak pandai mengingat-ingat luka, apalagi yang telah sembuh tak berbekas, tapi yang ini, aku masih mengingatnya, dengan baik, kau tahu kenapa? Karena inilah pertama kali kita saling mengakrabkan diri, pertama kali kau mengajarkan, bahagia dan duka memang di hati, tapi yang memilih adalah kepala, jangan biarkan yang tidak kau inginkan berdiam lama di sana, iya kau yang mengajarkanku, kau juga bilang, jangan lama-lama mengakrabkan diri denganmu, jadilah penonton saja untuk orang-orang yang dengan rela hati jatuh ke pelukanmu.
Jadi, kubiarkan kepala memilih bahagia, dan menjauh darimu. Setelah itu kita jarang bertemu, mungkin sesekali tanpa sengaja, kita pernah berpapasan, dadaku sedikit sesak, tapi sebentar saja, tak sampai pagi hari aku akan telah melupakanmu dan kembali bernafas lega.
Aku merindukanmu malam ini, cerita-cerita tentangmu di blog lamaku harusnya tak kuhapus, tak ada salahnya mengenang, kan? Kadang dengan mengenang luka, aku bisa lebih mensyukuri saat-saat bahagia, seperti saat ini, dan satu bulan terakhir. Ah, kau tahu kan yang terjadi satu bulan terakhir? Meskipun kejadian itu tak mengundangmu datang, kau tahu bahagia yang telah mengendap sangat banyak, di sini, di hati, tapi tahukah kau, kali ini bahagiaku bernada sendu dan sedikit pilu, siapa lagi yang lebih mengenal dua nada itu selain kau, jadi aku mencarimu malam ini, berbagi bahagia yang sendu denganmu, patah hati.
Aneh memang, tapi itulah adanya, nada-nada yang biasa kau bawa bersama luka, datang padaku melaluinya dalam bentuk bahagia, bahagia yang tenang, bahagia yang akan selalu kukenang.
Sudahlah, kita tak perlu mengakrabkan diri lagi, lagi pula terlalu larut sekarang, sendu dan pilu pun sedikit menghilang. Aku telah cukup berbagi, dan menuliskan banyak tentangmu di sini, dan mungkin masih akan banyak lagi.
Sebelum kau pergi, aku ingin meminta sesuatu padamu, berjanjilah jangan datang padanya, paling tidak jangan jadikan aku pengantar nada-nadamu padanya, bisa, kan? Karena aku berharap aku pun menjadi bagian nada sendu dalam bahagianya, yang tenang, yang ingin selalu ia kenang. Selamat malam, patah hati.
![]() |
| dia pernah mengatakan ini untukku :) |
Saturday, 5 January 2013
yang terbawa perjalanan hujan
kita adalah yang terbawa perjalanan hujan
bersama mencapai laut
berusaha menggapai awan
untuk jatuh kembali ke tanah
lalu berpisah
bersama mencapai laut
berusaha menggapai awan
untuk jatuh kembali ke tanah
lalu berpisah
![]() |
| picture from here |
Saturday, 3 November 2012
My dear, Pa
Tadi di restoran, hampir saja aku mengajakmu keluar dan menemanimu merokok, karena hafal betul kebiasaanmu sehabis makan, iya, hampir saja. Tapi setelah itu aku ingat, kau telah hampir tiga bulan ini bebas rokok. Berhenti, benar-benar berhenti menghisap batang demi batang Surya 16 rokok favoritmu, Papa. Aku bangga, dan aku menyayangimu.
Your lucky number #3
Ice
![]() | ||
| Bye-bye smokes! Go Far away from my Pa. Haha XD |
I owe the pict from here
Thursday, 4 October 2012
masih di sini
..people come, go and walk away
but i'm not going anywhere
i'm not going anywhere..
[Not Going Anywhere's lyric, by Keren Ann]
but i'm not going anywhere
i'm not going anywhere..
[Not Going Anywhere's lyric, by Keren Ann]
aku di tempat yang sama,
tidak untuk menunggu,
tidak pula berniat untuk pergi.
jika kau datang kembali,
berdoa saja,
semoga bangku kosong di sebelah belum terisi
![]() |
| the pict is from here |
Sunday, 19 August 2012
Idul Fitri
Kami bertiga, harapan di depan, aku di tengah, masalalu di belakang. Beriringan, akur, bermaafan.
Thursday, 2 February 2012
karena ini cinta, aku ingin mengingatnya
Harus kutuliskan, untuk mengingatmu, untukmu.
Mungkin kau tak pernah tahu, hari ini, ketika kau kirim pesan dalam hujan yang jatuh, aku ikut luruh. Satu kesadaran menghempasku, cinta itu sederhana, cinta, seperti bukan apa-apa, tapi dialah harga, yang memaknai makna, cinta itu kamu.
Maaf, aku menyadarinya hari ini, aku tahu, tak akan ada puisi-puisi, tak akan ada lagu-lagu, mungkin untukmu, cinta bukan kata, yang keluar, lalu, lalu. Cintamu, kegugupan mengucap, ragu-ragu menatap, dan setia dalam menunggu.
Kaulah itu, tempat aku berpegang ketika suluh mati dalam gelap,
dalam ragu, dalam bingung. Kaulah itu, yang diam-diam mengusap airmataku, dan menjauh pula pelan-pelan ketika aku kembali bisa tertawa. Selama ini, kemanakah aku? tak merasaimu, tak menangkap gugup dalam lakumu. Kemanakah aku? Sibuk terjerat dalam ruang senyap, tidak, tak lagi, dan mulai hari ini, tiap detikmu, tiap detikku, aku akan merasai, memegangmu erat. Tak lagi alpa, tak ingin lupa, karena ini cinta, dan aku ingin mengingatnya.
Mungkin kau tak pernah tahu, hari ini, ketika kau kirim pesan dalam hujan yang jatuh, aku ikut luruh. Satu kesadaran menghempasku, cinta itu sederhana, cinta, seperti bukan apa-apa, tapi dialah harga, yang memaknai makna, cinta itu kamu.
Maaf, aku menyadarinya hari ini, aku tahu, tak akan ada puisi-puisi, tak akan ada lagu-lagu, mungkin untukmu, cinta bukan kata, yang keluar, lalu, lalu. Cintamu, kegugupan mengucap, ragu-ragu menatap, dan setia dalam menunggu.
Kaulah itu, tempat aku berpegang ketika suluh mati dalam gelap,
dalam ragu, dalam bingung. Kaulah itu, yang diam-diam mengusap airmataku, dan menjauh pula pelan-pelan ketika aku kembali bisa tertawa. Selama ini, kemanakah aku? tak merasaimu, tak menangkap gugup dalam lakumu. Kemanakah aku? Sibuk terjerat dalam ruang senyap, tidak, tak lagi, dan mulai hari ini, tiap detikmu, tiap detikku, aku akan merasai, memegangmu erat. Tak lagi alpa, tak ingin lupa, karena ini cinta, dan aku ingin mengingatnya.
![]() |
| gambarnya dari: sini |
Sunday, 25 December 2011
a little house a little dream
![]() |
| gambar dari: sini |
Received:
23:06:38
25.12.2011
From:
Mon Cher
+xxxxxxxxxx853
Tidak terlalu berlebihan kan, Tuhan?
Monday, 24 October 2011
kembang kecil kami yang cantik
mencuri hati kami,
dengan senyum kecilnya
tatapannya,
bahkan tangis nya
dia pengobat hati kami,
my beautifull little weirdo niece, Nyala Matahari Wirawan
Thursday, 20 October 2011
a piece of life
gambar dari: sini
Tetapi, apapun yang terjadi, baik buruk, selalu saja ada hal yang bisa disyukuri, begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil hari ini, saat sendirian sakit di kamar kosan. Sendirian? tidak, saya tidak benar-benar sendirian, ada keluarga, ada teman-teman yang bisa diandalkan, dan dia.
Uhuk! Iya, dia. Orang yang sama, yang jauh dari sempurna, seringkali membuat emosi, dan akhirnya, ribut lagi, ribut lagi.
Hampir enam tahun perjalanan kami, tidak gampang, malah sangat sulit. Tidak selalu ada jujur, tidak selalu setia. Kami, tentu saja bukan pasangan sempurna. Hari ini dia ada, seperti hari-hari kemarin, di saat-saat tersulit yang seringkali terlupakan, dia ada (tidak berarti selalu ada).
Mungkin akan banyak lagi pertanyaan setelah ini, seperti, sampai kapan?
"Aku tak memiliki jawaban, yang aku tahu saat ini, hanya menjalani".
(kemarin ada seorang anak kecil di China yang tertabrak mobil dan diabaikan, demo anti wallstreet masih menjadi headline di mana-mana, SBY dan reshuffle kabinetnya belum selesai-selesai juga)
Jalan masih panjang, sehat-sakit-lahir-dan kematian, bergulir bergantian. Ada banyak syukur yang dapat disemai, walau kadang-kadang masih sering tersandung kecewa dan sakit hati.
Sakit ini, bukan apa-apa.
Yang terbaik, pasti itu yang terjadi.
Tuesday, 27 September 2011
way to remember
Dari lantai satu gedung tempat saya bekerja paruh waktu, lahirlah blog ini :D. Sudah lama saya terpikir untuk menghapus blog saya yang pertama yang bahkan dalam satu bulan syukur-syukur ada satu update postingan :p, tapi terus mengulur-ulur waktu, lama sekali. Berbagai cerita hilir mudik, terpikir untuk saya tuliskan kembali, tapi lagi-lagi mengulur-ulur waktu dengan alasan "ah, nanti saja untuk diposting di blog yang baru" tapi tetap blognya tidak dibuat-buat juga :D
Cerita-ceritapun menumpuk dan semakin banyak terlupa, kisah sederhana yang kenangannya indah untuk diingat kembali, semakin memudar dari kepala.
Akhirnya, sebelum senja, senja sebenarnya di diri saya berakhir, dan diganti dengan temaram dan lelap panjang, sedikit cerita-cerita sederhana itu harus saya tuliskan, agar dapat diingat kembali, agar tidak memudar, dan warna indahnya dapat dikenang bersama :)
ps: menghapus blog ternyata seperti menghapus kenangan masa lalu, dan membuat blog baru rasanya seperti...punya pacar baru *hehe :D
gambar dari: sini
Subscribe to:
Posts (Atom)

















