Showing posts with label yang bersimpangan. Show all posts
Showing posts with label yang bersimpangan. Show all posts

Thursday, 7 January 2016

berjalan di belakangmu

berjalan di belakangmu,
memberiku banyak waktu untuk memilih-milih mana kenangan yang patut diingat
dan mana yang sebaiknya dilupakan.
sungguh,
tak ada pertemuan yang abadi.
hanya kita, yang mencoba untuk membuatnya bertahan sedikit lebih lama.
cepat atau lambat
kau atau aku
siapapun yang memulai
akhirnya berakhir dengan selamat tinggal.
berjalan di belakangmu,
memberiku banyak waktu menghitung hari yang terlewat, pun hari yang tersisa.
begitu singkat waktu bersama,
begitu cepat untuk berpisah.
ada banyak hal yang ingin kukatakan, namun tersendat dan tak sempat terucap.
atau, bahkan takut untuk diucapkan.
berjalan di belakangmu, membuatku mengerti, betapa kita
kau-aku, dan tempat-tempat yang telah dan belum pernah kusinggahi,
tak ada yang abadi.

Friday, 25 December 2015

mengabadikan kupu-kupu


“kupu-kupu,” tunjuknya. dan perempuan itu bersegera mengabadikan. aku mengabadikan. (20 desember. campuhan ridge walk, ubud.)  

Sunday, 8 September 2013

semoga kau baik-baik saja

pict source: here

J,
Kita yang telah bercakap-cakap pagi, siang, malam, sore, akhirnya kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus mengatakan apa, dan kau pun tak berniat memulainya. Hari itu, ketika aku memberimu tahu kebenarannya, aku tidak menyangka kau akhirnya akan mengambil sikap ini.
Selama ini, kau-aku seperti tak akan melangkah ke mana pun. Hanya seperti dua pejalan asing yang tak sengaja bertemu dan saling menyapa, bersikap seakan pertemuan ini hanya sesaat dan kemudian akan saling melupa. Padahal, dari awal kau memberi harap dan aku menanamnya, lalu ia tumbuh, menyemak. Dan, aku tak bisa berpura-pura tak tahu.
Selalu, tiap kali kutanyakan akan kita apakan harapan yang menyemak itu, kau hanya berkata, tunggulah dulu, beri lagi sedikit waktu, sedikit lagi, dan lagi. Kita bicara, pagi, siang, malam, sore. Membicarakan duniamu, membicarakan duniaku, tapi tak pernah dunia kita berdua. Pernah suatu kali aku bertanya, apa yang kau takutkan? Kau bilang, tak ada. Waktuku berjalan, kataku, dan kau berpura-pura tak tahu.
Hari ini, beberapa waktu setelah kukatakan kebenarannya, kita tak lagi bercakap-cakap. Aku bahkan tak tahu kabarmu. Apakah kau masih mengingatku? Kadang, aku masih mengingatmu. Jam-jam saat kau terbangun, dan jam-jam saat kau akan tidur, begitu hafalnya aku. Begitu akrabnya kita.
Mungkin, bagimu aku hanya seseorang yang kau sapa ketika terbangun, dan seseorang yang mengingatkanmu untuk beristirahat yang cukup setelah kau lelah bekerja. Setelah kukatakan kebenarannya, kau malah bilang akulah yang tak pandai menjaga harap yang kita punya. Tapi bukankah telah lama harapan itu kutanam hingga menyemak begitu suburnya, dan kaulah yang membiarkannya kering, meranggas dan mati. Jadi, aku pergi. Tak ingin lagi mencoba berharap, tak ingin lagi mencoba menunggu, tidak, tidak bersamamu. 
Apa kabarmu? Seharusnya kau baik-baik saja, karena aku baik-baik saja. Berhentilah memusuhi, berhentilah membenci. Semoga, kau baik-baik saja.

Wednesday, 14 August 2013

Lelaki

pict source: here
Lelaki, ia tak pernah berpanjang-panjang beralasan. 
Ia bilang tidak, diam. Titik. Ia bilang iya. Titik.

Ia diam, aku mengenalnya, ia marah. Ia tersenyum, aku mencintaimu, katanya, dan ia memang sungguh jatuh cinta.

Lelaki itu, tak mengirimkan pesan berkali-kali memenuhi kotak masuk di telepon genggam, ia mengirim foto, satu kali, sebuah jendela dari kamarnya, berlatar langit dengan semburat sinar matahari yang meninggi, “selamat pagi”, begitu tulisnya.


Lelaki itu, tak pernah berbasa-basi. Ketika perempuannya tertawa, ia hanya tersenyum, menatap dalam ke tawa itu, “aku mencintaimu,” katanya. Dan, Ia, sungguh jatuh cinta.

Wednesday, 8 May 2013

tentang kehilangan

picture source: here
Ia belajar banyak sejak balon kecilnya yang berwarna biru itu pecah. Belajar tentang kehilangan, tentang luka saat ditinggalkan, tentang tak apa menangis, karena air mata bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Lalu, semakin ia dewasa, semakin ia mampu mengatasi kehilangan dan kehilangan.
Hidup memberinya lebih dari sekadar balon biru, terkadang ia yang meninggalkan, sering pula ia yang ditinggalkan. Kehilangan-kehilangan itu meninggalkan banyak luka, meninggalkan banyak bekas, yang sulit ia hapus.
Baginya sekarang, memiliki adalah menjaga, memiliki adalah bersiap untuk ditinggalkan, bersiap untuk kehilangan. Satu hal yang ia tahu pasti, kapan saja, balon-balon itu bisa pecah, terbang, atau hilang. 

Tuesday, 5 March 2013

aku memimpikanmu

aku memimpikanmu, memandang matahari tenggelam, di pinggir pantai dengan laut yang tak lelah menghempas gelombang,  begitu baik, begitu sempurna 

aku memimpikanmu, di pulau tempat perempuan-perempuan menjunjung bunga dan patung para dewa menjaga sepanjang jalan

aku memimpikanmu, tak lagi membawa-bawa lelah, seperti usai segala usaha, dan kau mewujud segala harapan dan doa

aku memimpikanmu, kau aku, di tempat yang sama, berbagi pagi dan senja yang sama, di pulau yang sama, dalam wangi bunga dan restu para dewa
i owe the picture from here

Friday, 1 March 2013

tak bergerak

Pernahkah kamu mencintai seseorang dan seseorang itu pun mencintaimu? Kalian sama-sama mengutarakannya, sama-sama menunjukkannya, lewat kata dan lewat sikap. Menjadikannya orang yang pertama kau sapa ketika baru bangun tidur, dan rutin mengucapkan selamat malam ketika bersiap kembali tidur? Saat semuanya antara kau dan dia terasa benar. Tapi, hanya ada satu persoalan, baik kau ataupun dia, sama-sama tak melangkah maju, sama-sama tak memperlihatkan keinginan untuk memiliki yang lebih dari sekadar kata, dari sekadar sikap. Baik kau dan dia, seperti sama-sama menyimpan ketakutan untuk mendapat lebih dari yang sudah ada sekarang.

Kalian saling mencintai, kalian saling membutuhkan, tapi kalian tidak pernah benar-benar saling memiliki. Ada garis batas yang kau dan dia tau tidak untuk dilewati. Kau dan dia pun tak berniat untuk melewatinya, walaupun kadang-kadang kalian saling bertanya, bagaimana rasanya berada di sana? Menjadi bagian dari dirinya dan menjadikannya bagian dari dirimu. 

Mungkin ada banyak penyebab mengapa kalian begitu takut untuk melangkah. Mungkin kalian memiliki begitu banyak perbedaan yang bertentangan, hingga sedikit persamaan ini terus kalian pertahankan, tanpa hendak membuatnya lebih ataupun kurang. Jauh, jauh di dalam hatimu kau tau, suatu hari ini akan berakhir. Cepat atau lambat. Entah kau atau dia, pasti ada yang akan mengakhiri ini.

Aku tau rasanya seperti apa. Seperti terkurung dalam kotak tanpa pintu ataupun jendela untuk melihat ke luar, dan dirimu sendirilah yang menjebakkan diri di sana. Kadang kau merasa nyaman dalam kotak itu, kadang kau merasa bosan. Kau tetap bertahan karena sampai pada pemikiran suatu hari hal ini akan berakhir juga, dan bila waktunya tiba, kau akan membiarkan dia yang mengakhiri. Jadi, sebisanya kau bertahan, dan tetap berusaha menjadikan kotak tempatmu terkurung menjadi tempat paling nyaman.

Kau dan dia. Aku dan dia. Tak bergerak. Entah sampai kapan.


picture from here

Saturday, 16 February 2013

selamat malam, patah hati

     Dear patah hati, sepertinya aku merindukanmu malam ini, karena kata orang-orang, kau salah satu inspirasi besar ketika butuh bahan untuk menulis, bukan kata orang-orang saja sih, coba saja kau lihat sendiri isi blogku, sebagian besar memang membicarakanmu, heuh.... Sebenarnya sudah lama kita tak bertanya kabar,  Akhir-akhir ini kisah-kisah tentangmu kudapat dari film, dari lagu dan dari buku-buku yang kubaca, tentu saja, kau tidak menceritakan tentang aku, tapi tentang pemeran-pemeran yang ada di film, lagu dan buku-buku itu, dan aku, aku menceritakannya lagi melalui caraku sendiri di tempat ini.
     Kau tahu, aku suka nada-nada sendu dan sedikit pilu yang kau bawa ketika aku menceritakan tentangmu, kadang, nada-nada itu terasa nyata, hingga aku sendiri berpikir apa memang aku sendiri yang mengalaminya?    Tentu saja seringkali mereka yang membacamu di sini mengira akulah tokoh dalam cerita tersebut, akulah yang sedang 'mengalami'mu, aku sih senang-senang saja, itu berarti kau tampil nyata di sana, kesedihan yang kau bawa bisa kusampaikan dengan baik hingga mereka mengira begitu. Sedikit mengingat-ingat, kapan terakhir kita bertemu? Kita bicarakan yang terhebat saja, meskipun banyak luka sebenarnya, namun aku bisa mengatasinya tanpa harus mengalami patah. Jadi salah satu yang terhebat itu sekitar dua atau tiga tahun yang lalu? Iya mungkin sekitar itulah, kau tahu, aku tak pandai mengingat-ingat luka, apalagi yang telah sembuh tak berbekas, tapi yang ini, aku masih mengingatnya, dengan baik, kau tahu kenapa? Karena inilah pertama kali kita saling mengakrabkan diri, pertama kali kau mengajarkan, bahagia dan duka memang di hati, tapi yang memilih adalah kepala, jangan biarkan yang tidak kau inginkan berdiam lama di sana, iya kau yang mengajarkanku, kau juga bilang, jangan lama-lama mengakrabkan diri denganmu, jadilah penonton saja untuk orang-orang yang dengan rela hati jatuh ke pelukanmu.
     Jadi, kubiarkan kepala memilih bahagia, dan menjauh darimu. Setelah itu kita jarang bertemu, mungkin sesekali tanpa sengaja, kita pernah berpapasan, dadaku sedikit sesak, tapi sebentar saja, tak sampai pagi hari aku akan telah melupakanmu dan kembali bernafas lega. 
     Aku merindukanmu malam ini, cerita-cerita tentangmu di blog lamaku harusnya tak kuhapus, tak ada salahnya mengenang, kan? Kadang dengan mengenang luka, aku bisa lebih mensyukuri saat-saat bahagia, seperti saat ini, dan satu bulan terakhir. Ah, kau tahu kan yang terjadi satu bulan terakhir? Meskipun kejadian itu tak mengundangmu datang, kau tahu bahagia yang telah mengendap sangat banyak, di sini, di hati, tapi tahukah kau, kali ini bahagiaku bernada sendu dan sedikit pilu, siapa lagi yang lebih mengenal dua nada itu selain kau, jadi aku mencarimu malam ini, berbagi bahagia yang sendu denganmu, patah hati. 
     Aneh memang, tapi itulah adanya, nada-nada yang biasa kau bawa bersama luka, datang padaku melaluinya dalam bentuk bahagia, bahagia yang tenang, bahagia yang akan selalu kukenang.
     Sudahlah, kita tak perlu mengakrabkan diri lagi, lagi pula terlalu larut sekarang, sendu dan pilu pun sedikit menghilang. Aku telah cukup berbagi, dan menuliskan banyak tentangmu di sini, dan mungkin masih akan banyak lagi. 
     Sebelum kau pergi, aku ingin meminta sesuatu padamu, berjanjilah jangan datang padanya, paling tidak jangan jadikan aku pengantar nada-nadamu padanya, bisa, kan? Karena aku berharap aku pun menjadi bagian nada sendu dalam bahagianya, yang tenang, yang ingin selalu ia kenang. Selamat malam, patah hati.
dia pernah mengatakan ini untukku :)










Saturday, 5 January 2013

yang terbawa perjalanan hujan

kita adalah yang terbawa perjalanan hujan
bersama mencapai laut
berusaha menggapai awan
untuk jatuh kembali ke tanah
lalu berpisah

picture from here

Friday, 9 November 2012

hujan di luar jendela

i owe the pict

hari itu, hujan di luar jendela, aku membelakanginya
ingatkah kau?
kau berdiri di hadapanku
"ini bukan hari terakhir kita," katamu
hujan di luar
aku tak pernah berpikir hingga ada hari ini
kau dan aku waktu itu, dan hujan di luar jendela, cukuplah

apa kabar?
hari itu memang bukan hari terakhir kita
di kota yang jauh di tempat yang jauh
hujan di luar jendela
entah siapa di hadapanmu hari ini.

Saturday, 3 November 2012

My dear, Pa

Tadi di restoran, hampir saja aku mengajakmu keluar dan menemanimu merokok, karena hafal betul kebiasaanmu sehabis makan, iya, hampir saja. Tapi setelah itu aku ingat, kau telah hampir tiga bulan ini  bebas rokok. Berhenti, benar-benar berhenti menghisap batang demi batang Surya 16 rokok favoritmu, Papa. Aku bangga, dan aku menyayangimu.

Your lucky number #3
Ice

Bye-bye smokes! Go Far away from my Pa. Haha XD




 I owe the pict from here

Thursday, 4 October 2012

masih di sini

..people come, go and walk away
but i'm not going anywhere
i'm not going anywhere..

 [Not Going Anywhere's lyric, by Keren Ann]


aku di tempat yang sama,
tidak untuk menunggu,
tidak pula berniat untuk pergi.
jika kau datang kembali, 
berdoa saja,
semoga bangku kosong di sebelah belum terisi 

the pict is from here

Sunday, 19 August 2012

Idul Fitri

Kami bertiga, harapan di depan, aku di tengah, masalalu di belakang. Beriringan, akur, bermaafan.

Wednesday, 9 May 2012

hari dua belas

dua belas hari, atau sebelas? atau tiga belas?
diam-diam kau mengetuk, kubukakan, sengaja menyuruh masuk
aku mengabaikan tentang "bagaimana nanti?"

bagaimana nanti aku
bagaimana nanti kau
bagaimana nanti kalau--

abaikan, berpura-puralah tak ada lagi tentang "bagaimana nanti"-itu
kita masih mengharap pertemuan,
dan perpisahan (yang jauh hari sudah kurencanakan)-maaf

tak ada kau
tak ada aku
yang tersisa hanya kalau
(Kalau kukenal kau sebelum kenal puisi
Semua puisi kutulis kau)*



*Kalau, Puisi Karya Gita Romadhona

Friday, 10 February 2012

Perempuan kecil itu hari ini

Ada yang mengadakan lomba, ia mendengar dari tadi, bergantian, ceramah, mengaji dan tilawah. Merdu terbawa angin, menyelip dari sela pintu kamarnya yang sempit. Nada-nada yang begitu ia kenal, bertahun-tahun lalu.

Lalu, perempuan kecil itu masuk kembali ke kepalanya, dengan piyama dari bahan yang berbeda-beda warna, dijahitkan sendiri oleh ibunya. Belum lagi terhapus noda bantal di pipinya yang tembam, dengan sandal yang kebesaran (bahkan hingga nanti sandal itu putus karena telah jelek, sandal itu masih tetap kebesaran di kakinya) tersandung-sandung ujung sandalny sendiri, ia berjalan keluar rumah, masih terlalu pagi, kedua kakaknya baru saja berangkat ke sekolah, Ibunya di dapur, entah mencuci, entah memasak. Pagar kayu berwarna hijau muda di depan rumahnya dikunci dengan gembok besar dan lilitan rantai. Ia tak bisa keluar.

Pipinya yang bulat itu menempel di sela pagar kayu, dingin, warung di seberang rumahnya, belum lagi buka. Masih pagi, pohon rambutan kecil di halaman masih basah daunnya, ia berlari ke sana, merasai kulit kayu yang kasar, menarik dahan terendah yang bisa dia capai, lalu berlari lagi ke arah rumpunan tanaman sereh yang ditanam ibunya, menariknya selembar, dan mencium baunya. Kemarin, ia punya balon biru, balon terlama yang bertahan, yang pernah ia punya, yang tiba-tiba pecah ketika dibiarkannya di bawah panas matahari, ia sedih, tapi tidak menangis, hanya saja, itu pertama kali ia menyadari tentang kehilangan.

Di sebelah rumahnya ada setumpukan batu kerikil yang dibatasi dengan papan kayu, kerikil-kerikil yang direncanakan untuk merehab rumah itu telah ada sepanjang ingatannya, pagi ini, kerikil-kerikil itu begitu dingin dan basah, hitam, putih, hitam bening, kekuningan, bulat, memanjang, persegi, dan banyak bentuk yang tidak bisa ia sebutkan. Tumpukan kerikil itu pernah menjadi salah satu tempat bermain kesukaan ia dan kedua kakaknya, tapi entah sejak kapan pula, akhirnya tinggal ia sendiri bermain di sana.

Suara penceramah dari jauh itu tiba-tiba mengejutkannya, ah, di mana perempuan kecil itu?

Di tempat lain, ia melihat perempuan kecil itu pulang sekolah, merah putih seragamnya, menangis, tulang kering kaki kanannya berdarah, sampai di rumah, tak dapat diingatnya siapa yang bertanya kenapa kakinya berdarah, sesenggukan ia menjawab, seorang teman menjegalnya, ia terjatuh, kakinya tersangkut potongan kayu, ada paku. Berhari-hari kemudian ia demam. Lama ia membenci, temannya si penjegal kaki, di sekolah, diajaknya berkelahi, saling jambak, bergulat dalam debu, si penjegal kaki menangis, pipinya juga sakit kena tinju, tapi ia bertahan untuk tidak menangis, guru menghukum mereka berdua, pelan-pelan si penjegal kaki mengulurkan tangan padanya, maaf ya, ujarnya pelan, ia menjabat tangan temannya, iya sahutnya. Tak lama setelah itu, mereka berdua begitu akrab, jadi jagoan di sekolah, ditakuti, tukang berkelahi, dua perempuan kecil, suka menendang dan meninju, tak peduli perempuan atau laki, tak jarang pula, mereka berdua berselisih lagi, tapi saling memaafkan lagi. Dulu pernah dia ingat, si penjegal kaki mengajaknya ke rumah, ayahnya panen durian, dia diajak ikut menikmati. Lulus seragam merah putih, ia dan si penjegal kaki berpisah sekolah, nilainya tertinggi di sekolah, cukup untuk masuk ke sekolah terbaik di kotanya, seragam putih biru kini ia pakai, lama, ia dan si penjegal kaki, tak lagi berhubungan, sedikit kabar hanyalah tentang si penjegal kaki yang tetap jadi jagoan, perempuan yang suka berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sesekali bertemu, mereka hanya saling melempar senyum dan berlalu, ia sibuk dengan teman-teman barunya, dunia baru yang nanti memberi kisah sendiri yang mewarnai hatinya. Si penjegal kaki, terlupakan.

Lalu, di suatu maghrib, perempuan kecil itu sedang bersama ibunya, seseorang membawa kabar, si penjegal kaki kecelakaan, setelah menonton balap motor liar, ia ikut kebut-kebutan, di rumah sakit ia meninggal. Perempuan kecil dan ibunya, bergegas ke rumah si penjegal, di sana telah ramai, tangis ibu penjegal menyambutnya, ia belum menangis, hanya terduduk lemas, menyendiri ke ruang tengah, mayatnya belum sampai, masih di rumah sakit, ia menunggu, sambil mengingat, lalu pelan-pelan, air matanya jatuh juga. Sampai tubuh temannya datang, disambut takbir dan tahlil, ia menatap lekat, wajah pucat, tak ada sedikitpun luka, hanya darah, terus mengalir dari hidung dan telinga, walau telah disumbat kapas, tetap membanjir merah, begitu cepat kita tak lagi bisa sekadar saling melempar senyum, pikirnya.

Bertahun-tahun lalu, perempuan kecil itu terpotong lagi hatinya, bukan sekadar balon biru, yang pecah dan tidak menyisakan apa-apa, tapi seseorang, yang berkelahi, menangis, tertawa dan telah meninggalkan bekas luka di kakinya, hingga kini.

Suara mengaji lagi, perempuan kecil itu pamit pergi, sudah isya, dan telah dua puluh lima tahun ia kini.

--untuk pasangan berkelahi terbaik saya yang pernah ada, Almarhumah Mery Krisba.

Thursday, 2 February 2012

karena ini cinta, aku ingin mengingatnya

Harus kutuliskan, untuk mengingatmu, untukmu.
Mungkin kau tak pernah tahu, hari ini, ketika kau kirim pesan dalam hujan yang jatuh, aku ikut luruh. Satu kesadaran menghempasku, cinta itu sederhana, cinta, seperti bukan apa-apa, tapi dialah harga, yang memaknai makna, cinta itu kamu.


Maaf, aku menyadarinya hari ini, aku tahu, tak akan ada puisi-puisi, tak akan ada lagu-lagu, mungkin untukmu, cinta bukan kata, yang keluar, lalu, lalu. Cintamu, kegugupan mengucap, ragu-ragu menatap, dan setia dalam menunggu.


Kaulah itu, tempat aku berpegang ketika suluh mati dalam gelap, 
dalam ragu, dalam bingung. Kaulah itu, yang diam-diam mengusap airmataku, dan menjauh pula pelan-pelan ketika aku kembali bisa tertawa. Selama ini, kemanakah aku? tak merasaimu, tak menangkap gugup dalam lakumu. Kemanakah aku? Sibuk terjerat dalam ruang senyap, tidak, tak lagi, dan mulai hari ini, tiap detikmu, tiap detikku, aku akan merasai, memegangmu erat. Tak lagi alpa, tak ingin lupa, karena ini cinta, dan aku ingin mengingatnya.




gambarnya dari: sini



Monday, 26 December 2011

A little Bit Of Heaven, bahagia itu di mana-mana


Kau, yang kisahmu tamat hari ini, berhasil membuat cuaca terik panas di luar sana berganti menjadi awan gelap berpetir yang dengan tidak sopan masuk ke kamarku dan menginap, tapi tunggu dulu, dia tak berhasil masuk ke hati ku, karena apa kau tau? Walaupun awan itu berhasil membuatku menolak ajakan untuk bersenang-senang bersama teman-temanku (ah, mereka saat ini pasti sedang menikmati kuliner di daerah Pvj, mengobrol dan tertawa), aku tak menyia-nyiakan diriku untuk berlarut-larut merutuki mu.
Sendiri, aku berjalan menjauhi kamar ber-awan gelap-mu, menikmati pecel ayam dan nasi uduk, lalu kemudian kakiku mengajak untuk menghampiri tempat aku biasa menyewa film-film bermutu di kota ini, BatuApi, itu nama tempatnya, kau tahu kan? Seperti biasa, penjaga di sana menyapaku-yang telah hitungan tahun dikenalnya, mengajukan beberapa film, yang dia tahu akan kusukai, film-film tidak populer, tetapi bermutu dan jarang sekali bisa kau dapatkan di tempat penjualan dvd bajakan. Ada tiga film yang kupinjam malam ini, dan dua diantaranya, kau tahu, dihari-hari biasa tak mungkin aku tertarik untuk menontonnya, tapi, malam ini berbeda, aku mencari hiburan, mengusir awan gelap-mu.
Salah satu film itu berjudul A little bit of Heaven, tentu saja bukan salahsatu rekomendasi dari lelaki di BatuApi tersebut, film ini diajukannya karena aku yang meminta--yah--genre--drama--yang--menyenangkan
Ternyata, pilihanku tak salah (satu-satunya kesalahanku saat memilih adalah ketika pernah memilihmu, haha) Kate Hudson, yang menjadi pemeran utama bernama Marley, berperan sangat baik di sana, ceritanya tentang perempuan (Marley) yang divonis menderita kanker, berhasil menghadapi kematiannya dengan bahagia, bukan dengan ketakutan. Awalnya, ia takut, ia menolak perhatian dari semua orang, termasuk dari laki-laki yang mencintainya, jadi, ada momen yang membuatnya mengubah pikiran, ia pingsan, berada di awan dan seperti bertemu malaikat (atau entah apalah, tuhan mungkin?) yang mengatakan padanya bahwa ia telah memiliki semua apa yang ia inginkan dalam hidup, yang diperlukan hanyalah cara pandang yang berbeda, melihat hidup dari sisi yang berbeda. Ia mengerti, dan ketika terbangun, ia mulai melakukan segala hal yang ingin ia lakukan dalam hidup, jatuh cinta, bersahabat, membahagiakan orangtua, dan bersenang-senang, disamping akting Gael Garcia (pacar Marley) yang sedikit kaku, menurutku film ini menyenangkan, dan lihat, bagaimana film ini berhasil mengusir awan gelap-mu.
Film sederhana ini juga berhasil mengingatkanku, bahwa hidup itu hanya sekali, ada bahagia di mana-mana. Jadi, jangan disia-siakan (kau mengertikan maksudku? ) :)


Tuesday, 13 December 2011

terima, jalani, syukuri

"Masihkah kau inginkan, untuk berdiri di sana, tempat segala butuh, bukan cinta"

"Masih belumkah kau buka matamu, melihat yang terbaik di sini, cinta yang disisipkan'Nya, pada subuh, pada siang, pada malam, pada tiap tarikan nafas"

Mari cukupkan basa-basi yang malah menyesatkanmu jauh dari setia, kau pilih karena kau butuh, terima, jalani, syukuri

Kau tahu pasti, yang aku cari butuh karena cinta bukan cinta karena butuh.

Ini hidup, bukan pasar malam.

Saturday, 12 November 2011

suatu hari di sore yang gerah

gambar dari sini
Musim ini tidak mudah, kau tahu. Ketika kau tidak lagi bisa memastikan akan hujan ataukah kering yang panas di luar sana. Lagi-lagi, kita berharap saja, sambil menatap ke langit, semoga hari lebih ramah, hingga semua kegiatanmu terjaga.
Jakarta Selatan hari ini panas gerah. Tak ada kegiatan apapun, hanya berdiam di rumah, membaca pesan-pesanmu, mengingatMu. Semoga tak pernah alpa bersyukur.

Wednesday, 2 November 2011

cinta II

gambar dari sini

Kita tuliskan saja dulu, tanpa judul, tak apa, selesaikan paragraf pertama, lanjutkan lagi bila cerita telah bertambah, ya, siapa tahu bertambah, kan? Walau tokohnya hanya kita, kau-aku, siapa tahu, akan jadi beberapa paragraf, bab, atau bahkan sebuah buku nantinya. Tuliskan saja dulu, niatkan, boleh setelahnya, baru kita beri judul, dan untuk akhir, kita berserah saja pada'Nya, bagaimana? :)

LinkWithin