Showing posts with label harapan. Show all posts
Showing posts with label harapan. Show all posts

Sunday, 27 December 2015

Ubud, I'm Grateful

Saya tidak pernah pergi terlalu jauh dari rumah. Rumah, tempat orang-orang yang saya sayangi, keluarga. Terakhir kali berjauhan itu saat saya berkuliah, keluarga di Jakarta, dan saya di Bandung ( itu pun ngga jauh-jauh amat ya.. hehe) dan selalu, saya usahakan paling tidak satu bulan sekali untuk pulang ke Jakarta.
November yang lalu, Saya menerima pekerjaan dan berhijrah ke Ubud. Kota tempat Aulia saat ia bimbang dengan pernikahannya dan bertemu dengan Ketut Liyer yang famous itu. “Kamu yakin mau pindah ke Ubud? Jauh, loh, ngga kayak Bandung-Jakarta.” “Kamu, kan, ngga bisa bawa motor. Di Bali susah kalau ngga bisa bawa kendaraan.” Beragam pertanyaan dan keraguan membuntuti saya kala itu. Iya, bagaimana nanti saya di sana? Bagaimana nanti kalau Ubud tidak se”menenang”kan seperti yang orang-orang bilang. Bagaimana nanti kalau saya tidak betah, sementara pekerjaan yang lama sudah saya tinggalkan.

Sunday, 8 September 2013

semoga kau baik-baik saja

pict source: here

J,
Kita yang telah bercakap-cakap pagi, siang, malam, sore, akhirnya kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus mengatakan apa, dan kau pun tak berniat memulainya. Hari itu, ketika aku memberimu tahu kebenarannya, aku tidak menyangka kau akhirnya akan mengambil sikap ini.
Selama ini, kau-aku seperti tak akan melangkah ke mana pun. Hanya seperti dua pejalan asing yang tak sengaja bertemu dan saling menyapa, bersikap seakan pertemuan ini hanya sesaat dan kemudian akan saling melupa. Padahal, dari awal kau memberi harap dan aku menanamnya, lalu ia tumbuh, menyemak. Dan, aku tak bisa berpura-pura tak tahu.
Selalu, tiap kali kutanyakan akan kita apakan harapan yang menyemak itu, kau hanya berkata, tunggulah dulu, beri lagi sedikit waktu, sedikit lagi, dan lagi. Kita bicara, pagi, siang, malam, sore. Membicarakan duniamu, membicarakan duniaku, tapi tak pernah dunia kita berdua. Pernah suatu kali aku bertanya, apa yang kau takutkan? Kau bilang, tak ada. Waktuku berjalan, kataku, dan kau berpura-pura tak tahu.
Hari ini, beberapa waktu setelah kukatakan kebenarannya, kita tak lagi bercakap-cakap. Aku bahkan tak tahu kabarmu. Apakah kau masih mengingatku? Kadang, aku masih mengingatmu. Jam-jam saat kau terbangun, dan jam-jam saat kau akan tidur, begitu hafalnya aku. Begitu akrabnya kita.
Mungkin, bagimu aku hanya seseorang yang kau sapa ketika terbangun, dan seseorang yang mengingatkanmu untuk beristirahat yang cukup setelah kau lelah bekerja. Setelah kukatakan kebenarannya, kau malah bilang akulah yang tak pandai menjaga harap yang kita punya. Tapi bukankah telah lama harapan itu kutanam hingga menyemak begitu suburnya, dan kaulah yang membiarkannya kering, meranggas dan mati. Jadi, aku pergi. Tak ingin lagi mencoba berharap, tak ingin lagi mencoba menunggu, tidak, tidak bersamamu. 
Apa kabarmu? Seharusnya kau baik-baik saja, karena aku baik-baik saja. Berhentilah memusuhi, berhentilah membenci. Semoga, kau baik-baik saja.

Saturday, 3 August 2013

harapan

harapan yang ia kumpulkan, berpendar
ia tahu, cahaya yang semakin banyak itu, akan menolong di hari-hari tergelap
lagi, lagi
ia tambah, ia bulatkan, ia lempar ke langit
berpendar
bersinar
menyilaukan

aku menabung, katanya
cahaya-cahaya itu, harapan yang akan menolongnya di hari-hari tergelap
ia percaya

Tuesday, 16 April 2013

saat hujan

saat hujan, memang selalu ada saja yang jatuh, luruh
ada saja yang ikut mengalir, pergi menjauh
namun, di saat hujan pula akan selalu ada yang baru, yang baik
yang siap untuk bertumbuh



hujan di kedai lentera 


Tuesday, 12 March 2013

senyummu sajak panjang

senyummu sajak panjang
tak habishabis kubaca
tak bosanbosan kuulang
rimanya menjelma mantra
mencipta rindu mengendap mengeras

senyummu sajak panjang
maknamakna tersembunyi
memanggil rasa
hilang-muncul tak pasti

senyummu sajak panjang
labirin kata 
menjebak harap mencari jawab
tak temu jalan kembali

senyummu sajak panjang
kulihat kubaca kuulang
kulihat kubaca kuulang
tak bosanbosan
tak bosanbosan

Friday, 18 January 2013

sebentar saja

yang berteman dengan sepi akan menjadi sepi, begitulah menurutku, dan aku tak mau
mengertilah sedikit saja, sedikit saja
kau yang harusnya paling mengerti, aku adalah hasil dari apa yang dibesarkan bersama sepi
dan aku memusuhinya
bukankah itu baik? 
aku berlari berlari berlari
menghindari sepi
jadi kenapa kau suruh aku kembali?
segala yang kulakukan hanya sekadar membunuh sepi, ya sekadar
tak lebih
walau ketika berkaca selalu kutemukan sepi berhasil mengikuti
di mata, wajah dan hati
biarkan aku, paling tidak berpura-pura semua baik-baik saja
sebentar saja
mungkin kau bilang aku tak bersyukur
aku bersyukur, bersyukur, sangat
aku bahagia memilikimu, kau adalah matahari dan aku hanya bayanganmu, selalu akan begitu
tapi sepi terlanjur mencintaiku, dan ia mengikuti ke manapun aku
jadi biarkan, sebentar saja, aku menikmati apa yang tak bisa diambil oleh sepi
sebentar saja, semoga kau mengerti

picture from here

Friday, 10 February 2012

Perempuan kecil itu hari ini

Ada yang mengadakan lomba, ia mendengar dari tadi, bergantian, ceramah, mengaji dan tilawah. Merdu terbawa angin, menyelip dari sela pintu kamarnya yang sempit. Nada-nada yang begitu ia kenal, bertahun-tahun lalu.

Lalu, perempuan kecil itu masuk kembali ke kepalanya, dengan piyama dari bahan yang berbeda-beda warna, dijahitkan sendiri oleh ibunya. Belum lagi terhapus noda bantal di pipinya yang tembam, dengan sandal yang kebesaran (bahkan hingga nanti sandal itu putus karena telah jelek, sandal itu masih tetap kebesaran di kakinya) tersandung-sandung ujung sandalny sendiri, ia berjalan keluar rumah, masih terlalu pagi, kedua kakaknya baru saja berangkat ke sekolah, Ibunya di dapur, entah mencuci, entah memasak. Pagar kayu berwarna hijau muda di depan rumahnya dikunci dengan gembok besar dan lilitan rantai. Ia tak bisa keluar.

Pipinya yang bulat itu menempel di sela pagar kayu, dingin, warung di seberang rumahnya, belum lagi buka. Masih pagi, pohon rambutan kecil di halaman masih basah daunnya, ia berlari ke sana, merasai kulit kayu yang kasar, menarik dahan terendah yang bisa dia capai, lalu berlari lagi ke arah rumpunan tanaman sereh yang ditanam ibunya, menariknya selembar, dan mencium baunya. Kemarin, ia punya balon biru, balon terlama yang bertahan, yang pernah ia punya, yang tiba-tiba pecah ketika dibiarkannya di bawah panas matahari, ia sedih, tapi tidak menangis, hanya saja, itu pertama kali ia menyadari tentang kehilangan.

Di sebelah rumahnya ada setumpukan batu kerikil yang dibatasi dengan papan kayu, kerikil-kerikil yang direncanakan untuk merehab rumah itu telah ada sepanjang ingatannya, pagi ini, kerikil-kerikil itu begitu dingin dan basah, hitam, putih, hitam bening, kekuningan, bulat, memanjang, persegi, dan banyak bentuk yang tidak bisa ia sebutkan. Tumpukan kerikil itu pernah menjadi salah satu tempat bermain kesukaan ia dan kedua kakaknya, tapi entah sejak kapan pula, akhirnya tinggal ia sendiri bermain di sana.

Suara penceramah dari jauh itu tiba-tiba mengejutkannya, ah, di mana perempuan kecil itu?

Di tempat lain, ia melihat perempuan kecil itu pulang sekolah, merah putih seragamnya, menangis, tulang kering kaki kanannya berdarah, sampai di rumah, tak dapat diingatnya siapa yang bertanya kenapa kakinya berdarah, sesenggukan ia menjawab, seorang teman menjegalnya, ia terjatuh, kakinya tersangkut potongan kayu, ada paku. Berhari-hari kemudian ia demam. Lama ia membenci, temannya si penjegal kaki, di sekolah, diajaknya berkelahi, saling jambak, bergulat dalam debu, si penjegal kaki menangis, pipinya juga sakit kena tinju, tapi ia bertahan untuk tidak menangis, guru menghukum mereka berdua, pelan-pelan si penjegal kaki mengulurkan tangan padanya, maaf ya, ujarnya pelan, ia menjabat tangan temannya, iya sahutnya. Tak lama setelah itu, mereka berdua begitu akrab, jadi jagoan di sekolah, ditakuti, tukang berkelahi, dua perempuan kecil, suka menendang dan meninju, tak peduli perempuan atau laki, tak jarang pula, mereka berdua berselisih lagi, tapi saling memaafkan lagi. Dulu pernah dia ingat, si penjegal kaki mengajaknya ke rumah, ayahnya panen durian, dia diajak ikut menikmati. Lulus seragam merah putih, ia dan si penjegal kaki berpisah sekolah, nilainya tertinggi di sekolah, cukup untuk masuk ke sekolah terbaik di kotanya, seragam putih biru kini ia pakai, lama, ia dan si penjegal kaki, tak lagi berhubungan, sedikit kabar hanyalah tentang si penjegal kaki yang tetap jadi jagoan, perempuan yang suka berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sesekali bertemu, mereka hanya saling melempar senyum dan berlalu, ia sibuk dengan teman-teman barunya, dunia baru yang nanti memberi kisah sendiri yang mewarnai hatinya. Si penjegal kaki, terlupakan.

Lalu, di suatu maghrib, perempuan kecil itu sedang bersama ibunya, seseorang membawa kabar, si penjegal kaki kecelakaan, setelah menonton balap motor liar, ia ikut kebut-kebutan, di rumah sakit ia meninggal. Perempuan kecil dan ibunya, bergegas ke rumah si penjegal, di sana telah ramai, tangis ibu penjegal menyambutnya, ia belum menangis, hanya terduduk lemas, menyendiri ke ruang tengah, mayatnya belum sampai, masih di rumah sakit, ia menunggu, sambil mengingat, lalu pelan-pelan, air matanya jatuh juga. Sampai tubuh temannya datang, disambut takbir dan tahlil, ia menatap lekat, wajah pucat, tak ada sedikitpun luka, hanya darah, terus mengalir dari hidung dan telinga, walau telah disumbat kapas, tetap membanjir merah, begitu cepat kita tak lagi bisa sekadar saling melempar senyum, pikirnya.

Bertahun-tahun lalu, perempuan kecil itu terpotong lagi hatinya, bukan sekadar balon biru, yang pecah dan tidak menyisakan apa-apa, tapi seseorang, yang berkelahi, menangis, tertawa dan telah meninggalkan bekas luka di kakinya, hingga kini.

Suara mengaji lagi, perempuan kecil itu pamit pergi, sudah isya, dan telah dua puluh lima tahun ia kini.

--untuk pasangan berkelahi terbaik saya yang pernah ada, Almarhumah Mery Krisba.

LinkWithin