Showing posts with label pemimpi. Show all posts
Showing posts with label pemimpi. Show all posts

Thursday, 6 March 2014

bebas


kita bebas
di jalan kita masing-masing
tak lagi saling halang
tak lagi saling halau
akhirnya,
kita bebas.

aku
bebas.
Pict source: here

Saturday, 3 August 2013

harapan

harapan yang ia kumpulkan, berpendar
ia tahu, cahaya yang semakin banyak itu, akan menolong di hari-hari tergelap
lagi, lagi
ia tambah, ia bulatkan, ia lempar ke langit
berpendar
bersinar
menyilaukan

aku menabung, katanya
cahaya-cahaya itu, harapan yang akan menolongnya di hari-hari tergelap
ia percaya

Wednesday, 20 March 2013

1915 hari mimpi dan satu hari berhujan

Suatu hari, sebuah pohon yang telah hidup dalam kekeringan selama 730 hari berdoa pada dewa-dewa, segala dewa. "Wahai, segala yang mampu mendengar pinta hamba," katanya, "telah 730 hari berlalu hamba habiskan dalam kering yang panjang. Tak satu, bahkan daun kering pun tersisa. Tiap ranting sekarat mencari nyawanya sendiri. Bolehkah hari ini, sebentar saja, turunkan hujan. Sebentar saja. Lalu, bila aku harus mati, maka matilah dalam kenangan baik pelukan hujan."
Angin tiba-tiba berhenti bertiup. Ranting-rantingnya yang seolah jari-jari kurus tengadah ke langit, merasakan  di udara sekitar hawa lembab yang ia kenal baik, yang telah lama tak ia rasakan itu. Udara yang membawa aroma hujan. Gemetar tubuhnya, dewa-dewa mendengar, dewa-dewa menjawab. Maka, ditambahkannya lagi doanya, "Berikan, berikan hujan. Izinkan kutumbuhkan sehelai tunas, izinkan tunas mudaku membelai hujan."
Hujan pun turun, pelan awalnya. Membasahi puncaknya yang tertinggi, cokelatnya yang kering. Dirasainya hujan itu, seperti seorang penyembah, tengadah, ranting-rantingnya yang kurus menerima dengan ikhlas tiap tetes yang semakin deras.
Terus, teruslah. Gerus, geruslah. Setiap sakit, setiap duka, musnahlah.
Hujan semakin deras, Menjamah tiap inchi kekeringan di kulitnya, membasahinya, mengisinya.
Setelah ia berhasil mengusir segala kering yang tersisa, suatu gerakan lain mendorongnya dari dalam. Ada yang tumbuh di sana, di dalam tubuhnya, yang ia kenal baik dengan penuh cinta. Dorong. Dorong. Dorong.
Sebuah tunas muda, hijau bening, muncul di rantingnya yang kecil.
Terima kasih, yang telah mendengar doa hamba, apa pun. Terima kasih, wahai pengabul. Ujarnya dalam bahagia.
Tak lama, hujan berhenti. Pelan, perlahan.
Angin lama bergerak kembali, dingin, lalu kering.
Bayinya, tunas muda yang rapuh, bernafas pelan, menghirup udara yang semakin tak ramah.
1915 hari usianya, 730 hari kekeringan, dan satu hari berhujan. Ia tahu, tunas muda ini, tunas terakhir yang akan ia miliki.
Keesokan hari, matahari lama menyambutnya. Mengisap basah yang masih tersisa. 
Ia tak hendak lagi berdoa.
Tunas mudanya, dalam embusan udara yang tak seberapa kuat, gugur ke tanah.

Tuesday, 5 March 2013

aku memimpikanmu

aku memimpikanmu, memandang matahari tenggelam, di pinggir pantai dengan laut yang tak lelah menghempas gelombang,  begitu baik, begitu sempurna 

aku memimpikanmu, di pulau tempat perempuan-perempuan menjunjung bunga dan patung para dewa menjaga sepanjang jalan

aku memimpikanmu, tak lagi membawa-bawa lelah, seperti usai segala usaha, dan kau mewujud segala harapan dan doa

aku memimpikanmu, kau aku, di tempat yang sama, berbagi pagi dan senja yang sama, di pulau yang sama, dalam wangi bunga dan restu para dewa
i owe the picture from here

Saturday, 9 February 2013

sirkus malam minggu

picture from here
sirkus malam minggu, warna-warni dan kerlap-kerlip lampu, menyihirku
selalu dibutuhkan harga untuk masuk, ya kan?
sirkus malam minggu, gemerlap merah-kuning-emas, menyihirku
berapa? berapa yang harus kukorbankan? semua punya harga, ya kan?
sirkus malam minggu, wahana tawa dan rumah bahagia, menyihirku
kubayar, kubayar, jangan menunda, aku tahu, pasti ada harga

sirkus malam minggu, di hatimu
aku tahu ada harga
biarkan aku masuk
biarkan aku terlupa

Friday, 18 January 2013

sebentar saja

yang berteman dengan sepi akan menjadi sepi, begitulah menurutku, dan aku tak mau
mengertilah sedikit saja, sedikit saja
kau yang harusnya paling mengerti, aku adalah hasil dari apa yang dibesarkan bersama sepi
dan aku memusuhinya
bukankah itu baik? 
aku berlari berlari berlari
menghindari sepi
jadi kenapa kau suruh aku kembali?
segala yang kulakukan hanya sekadar membunuh sepi, ya sekadar
tak lebih
walau ketika berkaca selalu kutemukan sepi berhasil mengikuti
di mata, wajah dan hati
biarkan aku, paling tidak berpura-pura semua baik-baik saja
sebentar saja
mungkin kau bilang aku tak bersyukur
aku bersyukur, bersyukur, sangat
aku bahagia memilikimu, kau adalah matahari dan aku hanya bayanganmu, selalu akan begitu
tapi sepi terlanjur mencintaiku, dan ia mengikuti ke manapun aku
jadi biarkan, sebentar saja, aku menikmati apa yang tak bisa diambil oleh sepi
sebentar saja, semoga kau mengerti

picture from here

Tuesday, 1 January 2013

perempuan yang menyulam harapan

picture from here
di sebuah tikungan, ada seorang perempuan yang membagi-bagikan sulaman harapan
gratis, untuk tiap pejalan yang kelelahan. aku menyebutnya;  perempuan yang menyulam harapan
"ambil saja," katanya, "dua atau tiga sekaligus untuk persediaan"
dan merekapun berebut, takut kehabisan
dan apabila pejalan kemalaman di perjalanan, mereka keluarkan sulaman harapan
ada yang menjadikannya selimut, ada pula yang hanya memandanginya
masing-masing punya cara sendiri menjadikannya alasan untuk bertahan di perjalanan
untuk pejalan yang tak bertemu dengan perempuan yang menyulam harapan
sendiri, ia akan merasa sepi dan kedinginan
apakah kau pejalan?
jangan lupa, bila bertemu perempuan yang menyulam harapan
dan ia sedang membagikan
ambil saja, jangan ragu, dua atau tiga
seperti aku, yang bahkan mengambil banyak sekaligus
dan hingga sekarang
aku tak pernah kehabisan harapan

Friday, 10 February 2012

Perempuan kecil itu hari ini

Ada yang mengadakan lomba, ia mendengar dari tadi, bergantian, ceramah, mengaji dan tilawah. Merdu terbawa angin, menyelip dari sela pintu kamarnya yang sempit. Nada-nada yang begitu ia kenal, bertahun-tahun lalu.

Lalu, perempuan kecil itu masuk kembali ke kepalanya, dengan piyama dari bahan yang berbeda-beda warna, dijahitkan sendiri oleh ibunya. Belum lagi terhapus noda bantal di pipinya yang tembam, dengan sandal yang kebesaran (bahkan hingga nanti sandal itu putus karena telah jelek, sandal itu masih tetap kebesaran di kakinya) tersandung-sandung ujung sandalny sendiri, ia berjalan keluar rumah, masih terlalu pagi, kedua kakaknya baru saja berangkat ke sekolah, Ibunya di dapur, entah mencuci, entah memasak. Pagar kayu berwarna hijau muda di depan rumahnya dikunci dengan gembok besar dan lilitan rantai. Ia tak bisa keluar.

Pipinya yang bulat itu menempel di sela pagar kayu, dingin, warung di seberang rumahnya, belum lagi buka. Masih pagi, pohon rambutan kecil di halaman masih basah daunnya, ia berlari ke sana, merasai kulit kayu yang kasar, menarik dahan terendah yang bisa dia capai, lalu berlari lagi ke arah rumpunan tanaman sereh yang ditanam ibunya, menariknya selembar, dan mencium baunya. Kemarin, ia punya balon biru, balon terlama yang bertahan, yang pernah ia punya, yang tiba-tiba pecah ketika dibiarkannya di bawah panas matahari, ia sedih, tapi tidak menangis, hanya saja, itu pertama kali ia menyadari tentang kehilangan.

Di sebelah rumahnya ada setumpukan batu kerikil yang dibatasi dengan papan kayu, kerikil-kerikil yang direncanakan untuk merehab rumah itu telah ada sepanjang ingatannya, pagi ini, kerikil-kerikil itu begitu dingin dan basah, hitam, putih, hitam bening, kekuningan, bulat, memanjang, persegi, dan banyak bentuk yang tidak bisa ia sebutkan. Tumpukan kerikil itu pernah menjadi salah satu tempat bermain kesukaan ia dan kedua kakaknya, tapi entah sejak kapan pula, akhirnya tinggal ia sendiri bermain di sana.

Suara penceramah dari jauh itu tiba-tiba mengejutkannya, ah, di mana perempuan kecil itu?

Di tempat lain, ia melihat perempuan kecil itu pulang sekolah, merah putih seragamnya, menangis, tulang kering kaki kanannya berdarah, sampai di rumah, tak dapat diingatnya siapa yang bertanya kenapa kakinya berdarah, sesenggukan ia menjawab, seorang teman menjegalnya, ia terjatuh, kakinya tersangkut potongan kayu, ada paku. Berhari-hari kemudian ia demam. Lama ia membenci, temannya si penjegal kaki, di sekolah, diajaknya berkelahi, saling jambak, bergulat dalam debu, si penjegal kaki menangis, pipinya juga sakit kena tinju, tapi ia bertahan untuk tidak menangis, guru menghukum mereka berdua, pelan-pelan si penjegal kaki mengulurkan tangan padanya, maaf ya, ujarnya pelan, ia menjabat tangan temannya, iya sahutnya. Tak lama setelah itu, mereka berdua begitu akrab, jadi jagoan di sekolah, ditakuti, tukang berkelahi, dua perempuan kecil, suka menendang dan meninju, tak peduli perempuan atau laki, tak jarang pula, mereka berdua berselisih lagi, tapi saling memaafkan lagi. Dulu pernah dia ingat, si penjegal kaki mengajaknya ke rumah, ayahnya panen durian, dia diajak ikut menikmati. Lulus seragam merah putih, ia dan si penjegal kaki berpisah sekolah, nilainya tertinggi di sekolah, cukup untuk masuk ke sekolah terbaik di kotanya, seragam putih biru kini ia pakai, lama, ia dan si penjegal kaki, tak lagi berhubungan, sedikit kabar hanyalah tentang si penjegal kaki yang tetap jadi jagoan, perempuan yang suka berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sesekali bertemu, mereka hanya saling melempar senyum dan berlalu, ia sibuk dengan teman-teman barunya, dunia baru yang nanti memberi kisah sendiri yang mewarnai hatinya. Si penjegal kaki, terlupakan.

Lalu, di suatu maghrib, perempuan kecil itu sedang bersama ibunya, seseorang membawa kabar, si penjegal kaki kecelakaan, setelah menonton balap motor liar, ia ikut kebut-kebutan, di rumah sakit ia meninggal. Perempuan kecil dan ibunya, bergegas ke rumah si penjegal, di sana telah ramai, tangis ibu penjegal menyambutnya, ia belum menangis, hanya terduduk lemas, menyendiri ke ruang tengah, mayatnya belum sampai, masih di rumah sakit, ia menunggu, sambil mengingat, lalu pelan-pelan, air matanya jatuh juga. Sampai tubuh temannya datang, disambut takbir dan tahlil, ia menatap lekat, wajah pucat, tak ada sedikitpun luka, hanya darah, terus mengalir dari hidung dan telinga, walau telah disumbat kapas, tetap membanjir merah, begitu cepat kita tak lagi bisa sekadar saling melempar senyum, pikirnya.

Bertahun-tahun lalu, perempuan kecil itu terpotong lagi hatinya, bukan sekadar balon biru, yang pecah dan tidak menyisakan apa-apa, tapi seseorang, yang berkelahi, menangis, tertawa dan telah meninggalkan bekas luka di kakinya, hingga kini.

Suara mengaji lagi, perempuan kecil itu pamit pergi, sudah isya, dan telah dua puluh lima tahun ia kini.

--untuk pasangan berkelahi terbaik saya yang pernah ada, Almarhumah Mery Krisba.

Monday, 24 October 2011

pemimpi

meniup harap, terbang-terbanglah tinggi
lewati bulan langkahi matahari, sampaikan cium pada bidadaribidadari

ku lepas semua, peluh kecewa sakit hati
penuhi mimpi

menyatalah suatu hari
kita bawa turun bulan kita bawa turun matahari
lalu bisa kita berkata,
 "Dunia, ini semesta aku bawa"


i owe the picture from: here

Saturday, 22 October 2011

my super hero

foto Batman & Robin imutnya dari: sini
Pernah tidak membayangkan kalau diri kita punya kekuatan, super power, tersembunyi di dalam tubuh seperti para super hero dari Amerika? Saya pernah, waktu kecil, bahkan sampai sekarang kadang-kadang :p . Waktu kecil, ketimbang jadi princess-princess-an saya lebih suka pakai kostum super hero yang maskulin, salah satu favorite saya sampai sekarang adalah Batman, saya punya pakaiannya lengkap, dulu, sekarang tidak kok, beneran :D

Dulu, yang saya bayangkan kalau jadi super hero adalah enaknya bisa hilang-muncul, tanpa ketahuan dan punya kekuatan buat gaplokin orang :D Semakin dewasa, pemikiran itu tidak berubah, justru bertambah, saya mengerti para super hero itu tidak asal gaplok, tapi hanya mereka yang jahat saja, yang berbuat kriminal saja yang diringkus, mereka pecinta damai, dan yang paaaaaaling terakhir saya ketahui dengan sedih hati, mereka semua hanya tokoh khayalan :((

Nah, kan saya tadi bilang, kadang-kadang saya masih suka berandai-andai kalo saya punya kekuatan super :D iya, saya suka berkhayal kalau saya punya kekuatan super, selain buat gaplokin orang (teteep :p ) buat apalagi kekuatan itu? saya ingin terbang, bisa hilang-muncul di manapun tempat yang saya suka, dan yang pasti saya akan basmi itu para koruptor-koruptor yang masih berkeliaran >.< tapi, lagi-lagi apa daya, semua itu cuma khayalan, imajinasi, mimpi, jangankan buat terbang, buat gaplokin orang aja saya ga berani :D

Ada ga sih yang bisa bikin kita kuat, bisa terbang, dan jagoan begitu? Setau saya sih, ga ada ya :D kecuali kalau jadi dukun, pake ilmu hitam, biar bisa terbang dan hilang-muncul, iiiiisssss, amit-amit >.< walaupun saya belum pernah melihat prakteknya secara langsung, tapi saya percaya, di luar sana ada, karena di dalam surat Al-Falaq, ayat 4 sendiri menyebutkan tentang kejahatan tukang sihir, jadi, kekuatan-kekuatan seperti itu memang ada. Kekuatan untuk menyantet, kekuatan untuk memelet. Na'udzubillah mindzalik semoga kita bukan bagian dari kaum musyrik yang lebih percaya pada kekuatan setan dari pada Allah penciptanya. Kita punya Allah, kenapa mesti percaya pada mahkluk ciptaan-Nya, kita punya Doa, yang lebih kuat dari mantra malam apapun, saya percaya.

+tapi kalau bisa pake pelet, boleh lah tuh yang tampan, tajir, sopan, pinter, sesekali bisa dibuat nemenin jalan-jalan, hehehe *digebukin massa* :D


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)


1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (Al-Quran, surah
Al Falaq 1-5)

Thursday, 20 October 2011

a piece of life

gambar dari: sini

Sakit itu mengurangi dosa. Begitu katanya, Amin, semoga benar. Saya sakit, lagi. Dalam 3 bulan terakhir, ini kali kedua terserang virus, sama-sama menular. Selain kondisi tubuh yang menurun, harus memisahkan diri, dampak lainnya yaitu membuat kantong sekarat. Sakit itu mahal.
Tetapi, apapun yang terjadi, baik buruk, selalu saja ada hal yang bisa disyukuri, begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil hari ini, saat sendirian sakit di kamar kosan. Sendirian? tidak, saya tidak benar-benar sendirian, ada keluarga, ada teman-teman yang bisa diandalkan, dan dia.
Uhuk! Iya, dia. Orang yang sama, yang jauh dari sempurna, seringkali membuat emosi, dan akhirnya, ribut lagi, ribut lagi.
Hampir enam tahun perjalanan kami, tidak gampang, malah sangat sulit. Tidak selalu ada jujur, tidak selalu setia. Kami, tentu saja bukan pasangan sempurna. Hari ini dia ada, seperti hari-hari kemarin, di saat-saat tersulit yang seringkali terlupakan, dia ada (tidak berarti selalu ada).
Mungkin akan banyak lagi pertanyaan setelah ini, seperti, sampai kapan?
"Aku tak memiliki jawaban, yang aku tahu saat ini, hanya menjalani".


 (kemarin ada seorang anak kecil di China yang tertabrak mobil dan diabaikan, demo anti wallstreet masih menjadi headline di mana-mana, SBY dan reshuffle kabinetnya belum selesai-selesai juga)

Jalan masih panjang, sehat-sakit-lahir-dan kematian, bergulir bergantian. Ada banyak syukur yang dapat disemai, walau kadang-kadang masih sering tersandung kecewa dan sakit hati.


Sakit ini, bukan apa-apa.



Yang terbaik, pasti itu yang terjadi.

Tuesday, 27 September 2011

way to remember

Dari lantai satu gedung tempat saya bekerja paruh waktu, lahirlah blog ini :D. Sudah lama saya terpikir untuk menghapus blog saya yang pertama yang bahkan dalam satu bulan syukur-syukur ada satu update postingan :p, tapi terus mengulur-ulur waktu, lama sekali. Berbagai cerita hilir mudik, terpikir untuk saya tuliskan kembali, tapi lagi-lagi mengulur-ulur waktu dengan alasan "ah, nanti saja untuk diposting di blog yang baru" tapi tetap blognya tidak dibuat-buat juga :D
Cerita-ceritapun menumpuk dan semakin banyak terlupa, kisah sederhana yang kenangannya indah untuk diingat kembali, semakin memudar dari kepala.
Akhirnya, sebelum senja, senja sebenarnya di diri saya berakhir, dan diganti dengan temaram dan lelap panjang, sedikit cerita-cerita sederhana itu harus saya tuliskan, agar dapat diingat kembali, agar tidak memudar, dan warna indahnya dapat dikenang bersama :)

ps: menghapus blog ternyata seperti menghapus kenangan masa lalu, dan membuat blog baru rasanya seperti...punya pacar baru *hehe :D




gambar dari: sini

LinkWithin